AIR MATA DARI MESIR

Mesir Antara Standar Ganda Barat dan Suara Islam

Minggu, 18 Agustus 2013

oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

   KRISIS Mesir makin memuncak. Di Harian Al-Hayat (Kamis, 15/08/13) Zuhair Qashibati menulis artikel berjudul Ḥarīq Mishr (“Kebakaran Mesir”) yang isinya ternyata membela tindakan aparat Mesir. Sementara pihak Al Ikhwan al Muslimun – melalu juru bicaranya – menyatakan bahwa Al-Sisi (jenderal yang menginisiasi penggulingan Mursy) akan membawa Mesir seperti Suriah.

   Pernyataan ini sepertinya mendekati kebenaran, setelah terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan otoritas – menurut bahasa penguasa – “transisi” dengan alasan untuk membubarkan pada demonstran. Rabi’ah al-Adawiyah dan lapangan al-Nahdhah akhirnya bersimbah darah pada Rabu (14/08/13).

   Pasca “Rabu Berdarah” itu, berbagai opini pun bermunculan. Baik yang pro-Mursy maupun yang kontra. Yang diam “seribu bahasa” hanya para kampium demokrasi dari Barat: negeri Pam Sam dan kawan-kawannya. Yang bisa dilakukan Amerika (termasuk Presiden RI) hanya melayangkan ucapan “prihatin” – sepertinya prihatin politis – dan membatalkan latihan militer AS-Mesir plus mempertimbangkan bantuan ke negeri Seribu Menara itu. Lainnya tidak ada.

   Negara-negara Eropa dan Barat lainnya sepertinya tengah menjadi “pemirsa yang budiman”. Paling keras mereka akan mengajukan penelitian dan inverstigasi. Itu pun pasti merugikan Islam. Ternyata demokrasi hanya berlaku bagi negara-negara kecil – paling kuat untuk negara yang bisa “dihisap” minyak dan sumber daya alamnya.

Standar Ganda

   Itu lah standar ganda Barat-Eropa bagi negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Atas nama demokrasi, di Iraq Saddam Husein harus digulingkan. Atas nama demokrasi Mu’ammar Qadhafy di Libya mesti didongkel dari kursinya. Atas nama demokrasi kaum Sunni dibiarkan dibantai di Suriah. Atas nama demokrasi Israel dibiarkan meraja-lela memproduksi senjata nuklir. Atas nama demokrasi pula mereka takut menyebut aksi militer di Mesir terhadap Mohammad Mursy sebagai aksi ‘kudeta’ kekuasaan.

   Di sini, pernyataan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan ketika melakukan konferensi pers di bandara Ankara sebelum melakukan perjalanan ke Turkmenistan. Katanya, “Demokrasi di dunia akan menjadi meragukan jika Barat tidak mengambil langkah serius, dan mereka yang diam tidak peduli terhadap tragedi di Mesir akan dianggap sebagai bagian dari para pembunuh.”

Barat memang para pembunuh. Bahkan, pembunuh berdarah dingin. Dan yang tampak saat ini di Mesir Barat benar-benar tengah menjelma menjadi “pembunuh demokrasi” yang mereka kampanyekan kemana-mana. Dan Barat akan tetap bersikap seperti itu. Tetap “memancing” dai air keruh. Dan, selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan.

   Tak berbeda dari sikap Barat, DK PBB pun terkesan membiarkan apa yang terjadi hari ini. Namun segera harus dimaklumi karena suara Islam tidak ada di PBB, apalagi di kursi Dewan Keamanan di sana. Semuanya pasti pro Militer Mesir dengan pertimbangan sekian nomor urut kepentingan. Kepentingan itu tidak lepas dari lobi-lobi politis plus ekonomis.

Kemana Suara Islam?

   Melihat kondisi yang memilukan di Mesir kita jadi bertanya: Kemanakah suara Islam? Mana win-win solution dari OKI. Mana suara dari Liga Arab? Apakah “Mesir Membara” yang telah menelan lebih 600 orang (IM menyebut 2.600 orang), apa masih kurang? Atau memang semuanya tak tahu harus berbuat apa.

   Ratusan jasad para demonstran yang dibakar pemerintah Mesir – untuk menghilangkan jejek kekejaman dan kekejian mereka – kurang cukup untuk mengetuk pintu hati kecil? Padahal berbagai protes dari berbagai belahan dunia atas aksi kekerasan dan pembantaian di Mesir sudah muncul dimana-mana. Namun itu adalah kecil. Karena mereka bukan organisasi. Mereka hanya individu-individu yang berkumpul seadanya: untuk menyatakan bahwa mereka masih punya akal dan rasa.

   Seharusnya itu sudah cukup untuk memantik rasa ukhuwwah islamiyyah berbagai organisasi Islam yang ada di dunia. Dan sikap itu pula harus diikuti oleh berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, khususnya Indonesia. Tentu suara Islam saat ini tengah diuji. Jika tidak ada tindakan nyata dan tegas, maka sudah dapat dipastikan bahwa sampai kapanpun ummat ini akan tetap seperti buih: besar secara kuantitas tapi kecil secara kualitas. Kondisi ini lah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw. Solusinya memang harus kembali berpikir ‘ukhrawi’, tidak melulu duniawi. Supaya kita punya nyali. Wallāhu waliyyut-tawfīq.*

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Sumut.

TGB pemimpin yang penomenal

TGBSosok yang dibahas kali ini bukan sosok yang asing di telinga dan mata kita, bahkan sudah sangat familiar. Hampir 5 tahun lebih berita tentang dirinya, aktifitas, dan kinerjanya seolah menjadi menu wajib surat kabar yang terbit di seantero NTB. Termasuk juga Lombok Post sebagai koran terbesar se-NTB.
Muhammad Zainul Majdi adalah tokoh fenomenal dunia kepesantrenan hari ini. Dia yang akrab disebut TGB, sebelum menjabat Gubernur, selama kurang lebih 10 tahun bersafari dakwah mengadakan pengajian di kota dan di kampung se-NTB. Kaset ceramahnya diputar di rumah-rumah dan di masjid-masjid mengimbangi ceramah KH. Zainuddin MZ. Akhirnya tatkala mencalonkan diri sebagai Gubernur NTB tahun 2008 lau, hal itu seolah membuka lembaran baru perpolitikan NTB.
Bagaimana tidak, seperti ditulis oleh Dr. Rasmianto dalam kata pengantar sebuah buku yang mengulas kiprah tokoh kita ini, bahwa dia hadir di NTB yang penuh warna dan penuh kejutan. Satu sisi dia merefresentasikan dunia ketuanguruan dan di sisi lain merefresentasikan birokrat santri yang masih muda belia. “Sebagai sosok tuan guru, muda lagi, dia hadir pada saat dan waktu yang tepat,” tulisnya.
Penulis merekam beberapa testimoni dan opini dari beragam kalangan tentang Muhammad Zainul Majdi sebagai seorang pribadi, intelektual, ulama, dan Gubernur NTB.
TGB sebagai Gubernur NTB
Suatu hari penulis berdialog ringan dengan salah satu ajudan Gubernur NTB saat bersilaturrahim ke Ummi Siti Rauhun dan TGB di gedeng Pancor. Penulis bertanya padanya tentang kesan menjadi ajudan TGB. Ia menjawab bahwa dirinya banyak mendapat ilmu dari TGB. “Gubernur sekarang inilah yang paling dekat dengan bawahan atau pegawainya. Beliau sering keliling kantor, tanya ini itu tentang pekerjaan. Ia selalu senyum tapi tegas. ”Menurutnya itulah kesan rekan-rekan kerjanya yang sudah lama di Gubernuran. Ketika penulis desak apa kekurangannya, dia menjawab, “Kurangnya, tidak banyak orang seperti beliau, menurut saya beliau rendah hati tapi wibawanya nggak dibuat-buat.”
Selepas cucu pendiri NW, TGKH M. Zainuddin Abdul Majid ini terpilih menjadi Gubernur periode 2008-2013, antusiasme masyarakat mengundang TGB dalam berbagai kegiatan meningkat tajam. Tidak saja dalam kegiatan agama, seperti pengajian, peletakan batu pertama masjid, madrasah, pesantren, khutbah Jum’at, namun menjalar ke semua kegiatan lain seperti seminar berbagai disiplin ilmu, pelantikan pengurus ormas, diskusi publik, studium general, hingga sunatan anak. Menurut orang dalam gubernuran, antusiasme luar biasa ini tidak terjadi pada Gubernur-gubernur NTB sebelum TGB. “Jadi wajar bila TGB tidak bisa hadiri semua, badan beliau cuma satu, seandainya bisa menghadiri semua, maka akan dipenuhinya. Jadi terpaksa ia berbagi peran dengan wakil atau rekan beliau.”Demikian penuturannya. Biasanya selepas selesai acara di kampus atau di masyarakat, TGB selalu dikerubuti jamaah atau mahasiswa sekedar bersalaman, minta kepala anaknya dielus, bahkan minta foto-foto.
Kehadiran beberapa ulama Timteng di Pendopo Gubernur NTB adalah peristiwa langka sebelumnya, bahkan mungkin saja belum pernah. Namun, saat NTB dipimpin TGB, Alhamdulillah mereka menginjakkan kaki di sana dan diterima sebagai tamu kehormatan daerah. Menghormati ulama dan memuliakannya adalah akhlak Islami yang fundamental sekali, sebab mereka adalah penyambung lidah para Nabi. Tercatat Prof. Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi asal Mesir, Al-Habib Zain bin Sumaith yang tinggal di Jeddah, Al-Habib Salim As-Syatiry asli Yaman, dan Dr. Muhammad bin Ismail Zain Al-Makki domisili Makkah, adalah para tamu Gubernur. Panitia tidak lupa mengundang para tuan guru dan alim ulama menemani TGB mendengar siraman tausyiah dari para ulama itu. Para Tuan Guru berseloroh tidak ada ceritanya dari dulu Tuan guru ngaji ke pendopo, kecuali di masa TGB menjabat. Ada pula yang bergumam, “Pendopo seolah rumah sendiri”.
Dalam sebuah pengajian, TGH. Habib Tantawi, asal Praya menceritakan bahwa saat rombongan Tuan guru dan pimpinan ponpes se-NTB yang dipimpin TGH. Safwan Hakim mengadakan kunjungan ke beberapa ponpes di Jawa, salah satunya adalah Pondok Modern Gontor, Kiyai Gontor, Dr. KH. Syukri Zarkasi memberi motivasi kepada para santrinya. Di dampingi para Tuan guru asal NTB ia menyatakan bahwa para santri Gontor harus termotivasi agar bisa mengikuti jejak Gubernur NTB. Gubernur termuda Indonesia yang lahir dari rahim pesantren. Ini menandakan euporia kebangkitan pesantren dengan terpilihnya TGB telah menjalar ke seluruh Indonesia.
Ini terbukti ketika adik penulis yang pernah tinggal di kota Jayapura selama 11 bulan. Dari beberapa masjid yang dia kunjungi dan berdialog dengan para pengurus di sana, banyak kesan seragam yang membuat ia takjub. Ketika ia ditanya, “Ustadz asal mana?” Lantas dia menjawab berasal dari Lombok. Mereka rata-rata menjawab, “Lombok itu NTB, yang gubernurnya termuda dan Kiyai itu? Kami bangga, meskipun bukan orang NTB, ada pemuda muslim sekaligus ulama menjadi pimpinan daerah. Seandainya di semua daerah seperti itu,” ungkapnya.
TGB Sebagai Ulama dan Intelektual
Testimoni ini riwayatnya shahih, penulis dengar langsung dari dua orang rekan TGB, dalam kesempatan berbeda, pertama Dr. Muhlis Hanafi, dosen UIN Jakarta dan anggota badan pentashih Al-Qur’an pusat dan Dr. M. Said Ghazali, dosen IAIH Pancor dan IAIN Mataram. Keduanya sahabat karib TGB di Mesir. Saat TGB mengambil Magister di Al-Azhar jurusan Tafsir Al-Qur’an, tahun pertama (fashlul awwal) jumlah mahasiswa yang diterima 40 orang. Setiap kenaikan tingkat diadakan semester, hanya yang nilainya bagus saja yang lulus. Ternyata pada tahun kedua atau fashlu atsani tidak ada yang lulus, kecuali hanya seorang, yaitu TGB. Akhirnya hingga Menggondol gelar S2, beliau hanya belajar 4 mata dengan para dosennya, karena hanya TGB seorang yang tersisa di kelas itu.
Gelar doktor ilmu tafsir pun berhasil diraihnya. Di sela-sela kesibukannya sebagai Gubernur, ia berhasil menyelesaikan disertasinya tentang studi filologi atas Tafsir Ibnu Kamal Basya dari surat An-Naml hingga surat As-Shaffat. Disertasi itu meliputi editing naskah manuskrip yang ditulis abad 10 H, memberi kritik, komentar, dan analisis metode penafsiran. Oleh pengujinya yang terdiri dari pakar Tafsir kelas dunia, ia dianugerahi Martabah Syaraf Al-Ula atau Summa Cumlaude dengan merekomendasikan risetnya untuk dicetak dan disebarluaskan ke dunia Islam atas biaya Al-Azhar.
Keunggulan intelektual TGB memang sudah tercium sejak masih belajar di Pancor. Penulis sering menjumpai Zainul Majdi muda sering membeli buku baru di toko buku milik penulis, Toko Hikmah Pancor. Penulis sering mendapatinnya sedang menyetor hafalan di rumah Syaikh Jum’ah Al-Misry, seorang masyaikh Ma’had DQH NW Pancor asal Mesir di awal tahun 90-an. Bahkan, menurut cerita para guru senior di Muallimin, almamater penulis, terkadang TGB ketiduran di kelas saat guru sedang menerangkan. Namun, saat dia ditanya materi yang disampaikan saat itu, dia selalu bisa menjawab dengan jawaban yang memuaskan. Zainul Majdi adalah primadona dan buah bibir secara turun menurun di madrasah Muallimin Pancor hingga kini.
Dalam kunjungannya ke Yayasan Pendidikan Hamzanwadi NW Pancor, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. M. Nuh menyebut bahwa TGB adalah aset NTB. Bahkan dirinya berharap TGB ke depannya bisa memimpin Indonesia, bahkan berpotensi memimpin dunia. Ungkapannya itu sontak disambut gema takbir ribuan santri yang hadir malam itu. Kesan yang sama disampaikan oleh Rektor UIN Malang, Prof. Imam Suprayogo saat TGB menyampaikan studium general di kampus yang dipimpinnya. Selepas mendengar presentasi TGB tentang Pendidikan Islam, ia terkagum-kagum. Menurutnya ia tidak sefaham dengan opini sebegaian orang bahwa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan masa depan. Buktinya, Indonesia masih punya stok calon presiden masa depan, satu di antaranya adalah Muhammad Zainul Majdi. Subhanallah.
Penulis H. Ahmad Zainul Hadi, MA
(Alumnus Pascasarjana UIN jakarta, kini dosen IAIH Pancor)

TGB (DR.TGH, ZAENUL MAJDI MA.) Tentang Fiqih Islam

312_Bn75x75[1]

TGB dan Fiqih Prioritas

  Sosok Muhammad Zainul Majdi memang menarik untuk dikaji meskipun dari beragam perspektif. Mulai dari perspektif agama karena sosoknya sebagai Tuan Guru, atau dari perspektif politik sebagai imbas dari jabatan Gubernur NTB yang diembannya, atau perspektif sosial selaku bagian dari anggota masyarakat. Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dan didiskripsikan dari pemikiran dan aksi beliau di lapangan.

  Kajian ini mencoba sedikit menganalisa pandangan seorang Muhammad Zainul Majdi terhadap fiqih prioritas atau fiqh al-aulawiyat. Kemudian bagaimana seorang Tuan Guru Bajang, panggilan akrabnya mengejawantahkan konsep ini ke dalam alam realitas, terutama kapasitasnya sebagai seorang Gubernur NTB.

   Sebagai seorang ulama sekaligus umara, TGB tampaknya faham betul dengan konsep fikih prioritas. Terlebih lagi sebagai alumnus al-Azhar Mesir, universitas yang concern mengkampanyekan nilai-nilai universalisme Islam ke seluruh penjuru bumi. Mesir sebagai pusat lahirnya pemikir-pemikir Muslim kontemporer yang modern namun orisinil, rupanya sangat mempengaruhi pola pikir TGB sendiri. Hal ini bisa secara gamblang dinilai dari ceramah-ceramah TGB yang memadukan ajaran klasik dengan pemahaman kontemporer. Fiqih prioritas seolah isu baru dalam dunia Islam, padahal dalam Islam sendiri, konsep ini sudah ada sejak lama. Bahkan Nabi SAW- lah yang meletakkan fondasi utama konsep ini. Fiqih prioritas adalah spirit utama seorang Muslim dalam menjalankan kewajiban selaku seorang abdi Allah dan anggota masyarakat. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Meskipun istilah ini dipopulerkan oleh Syaikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi, namun bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab turats seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawa’idhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan.Terlebih lagi dalam kondisi yang dikatakan oleh Syekh Hasan al-Banna bahwa “al-wajibat aktsaru min al-awqat” yaitu tugas-tugas yang ada tidak sebanding dengan waktu yang kita miliki. Di sinilah kita perlu mengkaji apa saja prioritas dari sekian banyak amalan yang sangat mungkin kita kerjakan dan dikondisikan dengan waktu yang rasanya semakin pendek.
  Dalam sebuah momen, TGB menyampaikan bahwa seorang muslim harus berbagi peran dalam kancah kehidupan hari ini. Tidak dibenarkan kalau semua memperdalam agama lalu mengenyampingkan ilmu umum. Imam al-Ghazali menyebut furudhul kifayah yang berarti bahwa hal-hal yang hukumnya fardhu kifayah harus terakomodir seluruhnya. Semua bidang yang berhubungan dengan kemaslahatan umum harus diisi oleh seorang Muslim.

  “Jangan semua ingin jadi Tuan Guru, jadi ustadz, pintar ceramah. Lalu yang jadi dokter siapa, arsitek siapa, ekonom siapa, polisi dan tentara siapa ?” ungkap TGB saat itu. Ini adalah contoh sederhana dari konsep fiqih prioritas. Bahwa kaum Muslimin hari ini harus berbagi peran. Dewasa ini kaum muslimin sudah tertinggal dalam beberapa lini kehidupan modern. Ini akibat kesalahfahaman dalam memahami hakikat prioritas amal. Padahal al-Imam as-Syafi’i dulu pernah mengkritisi langkanya seorang dokter Muslim, karena pada masa itu tenaga dokter yang tersedia adalah hampir semuanya non Muslim. Al-Imam al-Ghazali pun sempat tidak habis pikir karena banyak sarjana Muslim di zamannya doyan berdebat masalah fiqih ikhtilaf yang tiada ujung. Seandainya mereka hidup di zaman kita sekarang, mungkin mereka sudah stres melihat kondisi ummat Islam.

  Al-Qaradhawi dalam mukaddimah bukunya Fi Fiqhi al-Aulawiyyat menulis “Studi yang penulis sajikan dihadapan anda sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia memberikan solusi terhadap tiadanya keseimbangan dari sudut pandang agama dalam memberikan penilaian terhadap perkara-perkara, pemikiran dan perbuatan; mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain; mana perkara yang perlu didahulukan, dan mana pula perkara yang perlu diakhirkan; perkara mana yang harus diletakkan dalam urutan pertama, dan perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah Tuhan dan petunjuk Nabi saw.

  Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan oleh kaum Muslimin telah hilang dari mereka pada zaman kita sekarang ini.”Contoh prioritas yang dimaksud al-Qarahdawi adalah prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini beliau membahas prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’i dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi nilai Islam atas zhahir nash, prioritas ijtihad dari pada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat-pendapat fiqih.Konsep urutan prioritas amal adalah modal utama dalam setiap ceramah yang disampaikan TGB dalam berbagai kesempatan. Bahwa seorang Muslim hari ini tidak hidup di ruang hampa di mana ia hidup di tengah komunitas masyarakat dan wajib mengambil peran sebesar-besarnya. “Salah besar kalau ummat Islam hanya shalih untuk dirinya sendiri, namun tidak bermanfaat bagi sekelilingnya”. Sering sekali beliau menyampaikan bahwa Muslim itu seharusnya mampu berdaya guna sekaligus berdaya saing. Itulah konsekuensi dan hakikat atribut khoiru ummah yang disandang ummat Islam.

  Pemahaman akan fiqih prioritas itu lalu diadopsi dalam kebijakan publiknya. Dalam menjalani amanah selaku pemimpin NTB, TGB bersama segenap team worknya membuat program yang terencana dan tersusun rapi. TGB dan Badrul Munir bersama mengikhtiarkan pembangunan NTB yang Beriman dan Berdaya Saing. Pada tahap pertama (tahun 2008-2009) sebagai tahap orientasi dan konsolidasi. Tahap kedua (2010-2011) sebagai tahapan percepatan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Tahap ketiga (tahun 2012-2013) adalah perwujudan NTB Bersaing. Tahapan-tahapan ini merupakan jawaban atas pemahaman akan fiqih prioritas amal.

  Jika dilihat dari tipologi pemikirannya, para pengamat politik NTB menilai bahwa TGB termasuk menganut politik “moderat-transformatif. Moderat bukan berarti tidak memiliki prinsip, namun mau menerima ide-ide yang konstruktif, terbuka dengan kritik, menyelesaikan konflik dengan jalan damai dan bukan kekerasan, serta menganggap bahwa musyawarah dan diplomasi adalah langkah terbaik. Transformatif artinya berkomitmen menyelenggarakan good governance dalam rangka melayani ummat dengan baik dan merumuskan serta melaksanakan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

  Tulisan ini hanya mengungkap sedikit tentang pandangan TGB dalam mengaplikasikan fiqih prioritas, yaitu sebuah konsep dari doktrin Islam yang luhur. Memang tulisan ini tidak bisa menggambarkan bagaimana interprestasi TGB dalam masalah ini secara utuh, namun diharapkan bisa membuktikan bahwa fiqih itu tidak mendominasi masalah ritual dan sosial semata, akan tetapi sangat relevan diaplikasikan dalam politik struktural dan pemerintahan.
Wallohu a’lam bishawab.

Penulis

, H. Habib Ziadi (Pengasuh Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya Loteng)

POLIGAMI

>   kata “poligami” berasal dari kata, poli = banyak/lebih, gami = perkawinan/kawin..

apa bila dibahas masalah poligami biasanya akan terjadi perbedaan pendapat antara yang setuju dengan tidak setuju tentunya dengan alasan-alasan atau dalil-dalil masing-masing fihak baik itu yg mendukung ataupun tidak. kalau saya tanya temen-temen saya, jawabanya macam-macam dan lucu-lucu.diantaranya @ “poligami itu kan sunah yg paling nikmattt..he he he”. @”namanya juga poligami, kayak maen poliy harus lebih dari satu dong kalau pasangan maen kita cuma satu nga seru dong.” @”mending poligami dong daripada selingkuh, poligami dapat pahala selingkuh dapat dosa, pilih mana? dosa atau pahala”?.nah pendapat anda bagaimana?..

   ada baiknya kita simak pendapat semeton sasak kita yg satu ini.

Judul asli: Tafsir Ayat-ayat Poligami.

Oleh: Lalu Heri Afrizal, Lc.

poligami</<SUATU ketika seorang Syeikh, di salah satu negara yang pemerintahnya melarang poligami, menikah untuk kedua kalinya. Kabar pernikahannya pun terendus oleh intelijen negara itu. Di malam hari ketika Sang Syeikh itu menginap di rumah isteri keduanya, ia digrebek oleh sekelompok orang anggota intelijen. Ia pun diintrogasi dengan kasar.

“Mengapa Anda menikah lagi?” Dengan tenang Syeikh itu membela diri. “Dari mana Anda tahu kalau perempuan ini adalah isteri saya. Perempuan ini adalah simpanan saya.”

Akhirnya para intel itu mohon maaf atas tindakan lancang mereka. Dunia seakan terbalik. Orang yang menikah baik-baik hendak ditangkap, tetapi ketika alasan berduaan dengan pasangan kumpul kebo, justru dihormati. Dengan kata lain, orang berzina di luar nikah di lindungi dan dihormati, sementara yang menikah baik-baik dianggap melanggar Undang-undang.

Di negara kita, pembicaraan tentang poligami selalu hangat di dengar, terutama setelah dai kondang KH Abdullah Gymnastiar menikah dengan istri keduanya. Mereka yang menolak hukum poligami pun berusaha mencari justifikasi dari al-Quran dan Hadits yang mendukung sikap anti mereka. Biasanya mereka berdalil dengan ayat 3 surat An-Nisa’, bahwa seorang laki-laki boleh berpoligami jika mampu beruat adil.

وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tetapi ayat 129 surat yang sama menjelaskan siapapun tak akan mampu berlaku adil di antara istri-istrinya. Ini artinya, poligami sebenarnya tidak dibolehkan, karena kebolehan itu tergantung pada syarat “adil” yang mustahil direalisasikan.

Jika kita mengkaji penjelasan para ulama seputar kedua ayat di atas, tidak ada kontradiksi samasekali antara keduanya. Karena adil yang dimaksudkan pada ayat 3, bukan adil yang dimaksud oleh ayat 129. Memang, penggalan pertama ayat 129 berbunyi: “Dan sekali-kali kamu tidak akan bisa berbuat adil di antara para isteri kamu walaupun kamu sangat menginginkan hal itu…” Tetapi ketika kita lanjut membaca, maka ada penggalan berikutnya yang berbunyi, “…Maka janganlah kamu terlalu condong (terhadap istri yang lebih kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung….”

Jelas bahwa mafhûm mukhâlafah (makna sebaliknya) dari penggalan kedua di atas ialah: “Berbuat adillah engkau di antara mereka agar mereka tidak terkatung-katung”, karena lawan dari “Jangan terlalu condong (jangan berat sebelah)” adalah “Berlaku luruslah (berlaku adillah)”.

Jika demikian, jelas bahwa makna “adil” pada penggalan pertama, bukan makna “adil” pada penggalan kedua. Sebab jika diartikan sama, tentu akan menimbulkan makna kontradiktif, karena ayatnya akan berbunyi: “Dan kamu sekali-kali tidak akan bisa berkalu adil terhadap isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, maka berlaku adillah…!”

Sudah dijelaskan bahwa tidak ada orang yang bisa berlaku adil, lantas mengapa diperintah berbuat adil? Itu namanya membebani manusia dengan sesuatu yang tak mampu ia lakukan, padahal Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 284; “Allah tidak membebani seseorang dengan sesuatu yang tidak mampu ia laksanakan”.

Jadi adil dalam frase pertama berarti adil dalam urusan hati (seperti rasa cinta yang lebih kepada isteri yang lain). Adil dalam hal inilah yang tak mampu dilakukan oleh manusia, sehingga mereka tak diperintahkan untuk berlaku adil dalam hal ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sendiri bersabda: “Ya Allah inilah pembagianku dalam apa yang aku punyai (mampu melakukannya, yaitu urusan nafkah dan menginap) dan janganlah mencelaku pada apa yang Engkau punya dan tidak aku punya (urusan hati).” [HR. Abu Dawud]

Jadi arti “Janganlah berlaku condong (berbuat adillah)..” pada penggalan ayat kedua berarti adil dalam muamalah (seperti pemberian nafkah, giliran menginap, penyediaan fasilitas, pendidikan anak dsb). Adil dalam hal inilah yang mampu dilakukan oleh manusia.

Dengan demikian pemahaman ayat tersebut tidak akan kontradiktif. Karena tafsirannya akan berbunyi: “Engkau sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil dalam hal hati, karena hati adalah urusan Allah. Dia bisa saja menjadikanmu lebih mencintai salah satu di antara istri-istrimu. Tetapi janganlah kecendrungan hati ini membuat engkau tidak berlaku adil dalam bermuamalah kepada mereka. Janganlah kecintaanmu yang lebih kepada salah satu di antara merkea membuatmu tidak memperhatikan yang lain sehingga mereka terkatung-katung.” Dengan demikian tidak akan terjadi makna yang kontradiktif.

Ada juga yang berdalil dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Rasulullah bersabda di atas mimbar: “Keluarga Bani Hasyim bin Mughirah meminta izin untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib, maka aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, kecuali bila Ali menceraikan putriku dan menikahi anak perempaun mereka. Sungguh Fathimah adalah bagian dari diriku, meragukanku apa yang meragukannya, menyakitiku apa yang menyakitinya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Umumnya, mereka yang menolak poligigami menjadikan dasar hadits ini guna mendukung sikap anti poligami nya.

Namun, ketika dicermati kembali, anggapan tersebut tertolak dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Surat An Nisa’: 3:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja

.” [QS. An-Nisa’: 3].

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wata’a membolehkan seorang laki-laki menikahi wanita lebih dari satu, dan juga memerintahkan untuk menikahi satu isteri saja bila ia khawatir tak mampu berbuat adil. Nabi sendiri memiliki sembilan isteri. Maka sebagaimana ucapan beliau adalah dalil, begitu juga dengan perbuatan beliau.

Adapun alasan Nabi melarang Ali ra berpoligami karena perbuatan itu menyakiti Fathimah dan Nabi Saw, maka hal ini memang benar. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, menyakiti yang seperti apa? Kalau “menyakiti” berupa perasaan Sayyidah Fathimah ra yang tersakiti karena dimadu, tentu bukan itu yang dimaksud, karena Nabi sendiri berpoligami, dan perasaan tidak enak serta cemburu itu akan selalu ada di hati para istri beliau. Istri-istri beliau juga perempuan seperti Fathimah ra. Para sahabat Nabi yang lain juga banyak berpoligami, apakah mereka dilarang berpoligami lantaran istri-istri mereka cemburu? Atau istri mereka memang tidak ada yang memiliki sifat cemburu? Tetapi jika yang dimaksudkan “menyakiti” itu adalah karena Ali ra ingin menikahi anak perempuan Abu Jahal, sehingga hal ini akan menyakiti Nabi Subhanahu Wata’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menjelaskan hal ini dengan sabda beliau:

وَإِنِّى لَسْتُ أُحَرِّمُ حَلاَلاً وَلاَ أُحِلُّ حَرَامًا ، وَلَكِنْ وَاللَّهِ لاَ تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ أَبَدًا

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal atau mengharamkan yang halal, akan tetapi demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasul Allah dan anak perempuan musuh Allah pada seorang laki-laki selamanya

.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Mengomentari hadits di atas Ibnu At-Tîn berkata: “Pendapat paling tepat dalam menafsirkan kisah ini adalah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam mengharamkan Ali mengumpulkan putri beliau dengan anak perempuan Abu Jahal karena akan menyakiti beliau, dan menyakiti Nabi hukumnya haram, berdasarkan ijma’.

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam: “Aku tidak mengharamkan perkara yang halal’, maksudnya, dia (anak perempuan Abu Jahal) itu halal dinikahi oleh Ali jika saja Fatimah bukan istrinya. Adapun mengumpulkan keduanya akan menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam karena merasa tersakitinya Fathimah, maka hal itu tidak dibolehkan.

“Pelarangan bukan karena “tersakitinya” Fathimah ra, melainkan tersakitinya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam lantaran tersakitinya Fatimah, dan umat sepakat tentang keharaman menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Tentang hal ini Imam Ibnul Qayyim berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan tentang keharaman menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dengan cara apapun, meskipun dengan melakukan perbuatan yang mubah. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam merasa tersakiti dengan hal itu maka tidak boleh dilakukan berdasarkan firman Allah Subhanahu Wata’ala: “Tidak pantas bagi kalian menyakiti Rasulullah [QS. Al-Ahzab: 53].”

Mengatur, bukan Melarang

Islam yang merupakan agama fitrah, tentunya datang untuk memenuhi dan mengatur naluri kemanusiaan. Ia tidak datang untuk mencegah poligami, tetapi mengatur bagaimana cara berpoligami yang benar. Karena poligami adalah fenomena yang lumrah dan kodrati sepanjang sejarah manusia.

Poligami adalah pilihan sosial yang mubah, boleh dilakukan dan tidak berdosa orang yang tidak melakukannya. Tidak wajib dan tidak dibolehkan bagi laki-laki yang merasa tidak sanggup berbuat adil.

Namun yang terpenting adalah kita tidak boleh membenci hukum kebolehan ini, apalagi mengatakan bahwa poligami bukan merupakan Syariat Islam. Ketika ada orang yang melakukannya, tentu tidak boleh dibenci atau disalahkan, karena ia menjalani sesuatu yang dibolehkan baginya, bahkan bisa jadi dianjurkan berdasarkan hadits-hadits yang menganjurkan untuk memperbanyak umat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Ketika ada kasus rumahtangga poligami yang rusak karena berberapa oknum yang tidak mampu berbuat adil, tidak boleh lantas menyalahkan poligaminya. Sebab banyak juga rumah tangga monogami yang berantakan. Dengan demikian, tidak karena rusaknya rumah tangga non poligami kita menyalahkan monogaminya. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) VI ISID, Gontor, Ponorogo

YAHUDI (Zionis) kaum penghianat….

imagesCAZMGQ1L

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

RABU (21/11/2012), menandai Gerakan Perjuangan Islam Harakatul Muqawwamah al-Islamiyyah (Hamas) berhasil membuat ‘takluk’ Zionis-Israel dengan sebuah perjanjian gencatan senjata di Kairo, sesudah perang selama 8 hari yang diawali dengan pembunuhan pemimpin mujahidin Hamas Ahmad al-Ja’bari.

Negosiasi dilaksanakan di Kairo dengan mediasi pemerintahan Mesir dibawah Mursy melahirkan perjanjian yang efektif diberlakukan pada pukul 21 waktu setempat -atau pukul 01 WIB atau Kamis (22/11/2012) WIB.

Di antara teks kesepakatan gencatan senjata tersebut adalah: Pertama; Israel akan menghentikan semua tindakan permusuhan (hostilities) di daratan, laut dan udara Jalur Gaza, termasuk invasi-invasi dan penargetan individu-individunya. Kedua, semua faksi Palestina akan menghentikan semua tindakan permusuhan dari Jalur Gaza terhadap Israel, termasuk serangan roket dan semua serangan di sepanjang perbatasan. Ketiga, adanya pembukaan perbatasan-perbatasan dan difasilitasinya perpindahan/pergerakan orang dan barang dan dihentikannya pembatasan-pembatasan terhadap warga serta pentargetan warga di kawasan perbatasan. Prosedur pelaksanaan (kesepakatan ini) akan dilaksanakan dalam 24 jam sesudah dimulainya gencatan senjata.

Sesungguhnya jika dicermati secara jeli, perjanjian ini secara tidak langsung menunjukkan sudah tidak adanya “blokade” yang selama ini merupakan sangat memberatkan warga Gaza. Hanya saja, apakah kesepakatan seperti ini berlangsung selamanya atau hanya sementara? Masalahnya, sejarah sudah membuktikan, bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang dikenal suka berhianat dan suka mengingkari perjanjian.

Nabinya saja Dikhianati!

Beberapa jam adanya perjanjian senjata antara Hamas dengan Zionis-Israel, tentara Israel masih melanggar kesepakatan dengan menembak petani Palestina. Sejatinya tidak ada yang mengherankan. Itulah watak asli Israel alias Yahudi: bangsa yang suka melanggar janji dan mengkhianati kesepakatan. Bahkan kepada nabi mereka, Mūsā, mereka terbiasa mempermainkan perjanjian dengan Allah (Qs. al-Baqarah (2): 62). Kalau bukan karena rahmat Allah atas mereka, niscaya mereka telah binasa (Qs. al-Baqarah (2): 64). Itu sebabnya bangsa Yahudi banyak sekali mendapat siksa, karena cepat sekali mengingkari janji-janjinya kepada Allah. Maka dalam Al-Qur’an mereka dicap sebagai al-maghḍūb ‘alaihim: bangsa dan kaum yang dimurkai oleh Allah. (Lihat, Imam Jalāl al-Dīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn Muḥammad al-Maḥallī & Imam Jalāl al-Dīn ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Bakr al-Suyūṭī, Tafsīr al-Jalālain, ed. Muḥammad Dzulkifli Zain al-Dīn al-Waṭanī (Jakarta: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, 1432 H/2011 M), hlm. 18).

Kejadian yang paling mendalam yang harus dikenang umat Islam sepanjang seajrah adalah kasus di al-Madīnah al-Munawwarah sendiri. Ketika kaum Yahudi melanggar perjanjian yang mereka sepakati dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Di mana mereka dilindungi Rasulullah dan sepakat untuk tidak saling membantu musuh yang akan menyerang kota al-Madīnah. Namun perjanjian itu rupanya dikhianati. Mereka bersekongkol dengan Bangsa Quraisy di Makkah untuk menyerang kota al-Madīnah dan menghancurkan umat Islam dari belakang.

Peristiwa pengkhianatan mereka ini direkam oleh sejarah dalam Perang Khandaq (Perang Aḥzāb), yang terjadi pada tahun ke-5 Hijrah. Perang Aḥzāb ini memberikan pelajaran penting kepada Rasulullah bahwa Bangsa Yahudi sebagai manusia yang tak pernah jujur memegang janji-janjinya kepada sabda nabi Mūsā.

Karena pelanggaran janji itu lah kemudian Rasulullah menghukum mati Bangsa Yahudi laki-laki dewasa, sedangkan anak-anak dan perempuan diusir keluar dari kota al-Madīnah. (Lihat, Syekh Muṣṭafā al-Marāghī, 76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an, Penyunting: Muhammad Thalib (Solo: Pustaka Mantiq, 1991), hlm. 36, 37).

Oleh karenanya, umat Islam harus senantiasa ekstra hati-hati ketika berhadapan dengan Yahudi, bangsa yang suka melanggar janji dan pengkhianat kesepakatan. Dan ini sudah terjadi sepanjang sejarah kehidupan mereka di dunia ini. Dan, sejarah seperti ini terus berulang sampai dunia ini diakhiri oleh Allah swt. dengan kiamat.

Tidak Usah Dipercaya

Mantan presiden Amerika, Benyamin Franklin sudah sejak dahulu menegaskan dan meramalkan bahwa bangsa Yahudi tidak layak dipercaya, karena sangat berbahaya. Kata Franklin:

“Di sana ada bahaya besar yang mengancam Amerika. Bahaya itu adalah orang-orang Yahudi. Di bumi mana pun Yahudi itu berdiam, mereka selalu menurunkan tingkat moral kejujuran dalam dunia komersial. Mereka hidup mengisolasi diri dan berusaha mencekik leher keuangan penduduk pribumi, seperti yang terjadi di Portugal dan Spanyol.

Sejak lebih dari 1700 tahun, orang Yahudi mengeluhkan nasib yang mereka alami, karena mereka telah diusir dari bumi pertiwi. Perlu diketahui, wahai saudara sekalian, seandainya dunia berbudaya sekarang memberi mereka tanah Palestina, mereka akan segera mencari berbagai alasan untuk tidak kembali ke sana. Mengapa? Mereka tidak lain adalah binatang vampire (hantu yang mengisap darah manusia).”

Franklin juga menyatakan, “Aku ingatkan Anda sekalian. Kalau Anda tidak menyingkirkan orang Yahudi dari Amerika untuk selamanya, maka anak cucuk dan cicit kalian akan memanggil-manggil nama kalian dari atas liang kubur kalian. Pikiran yang ada di benak orang Yahudi tidak sama seperti yang ada pada orang Amerika. Meskipun mereka hidup bersama kita selama beberapa generasi, mereka tidak akan berubah sebagaimana macan tutul tidak bisa mengubah warna tutul kulitnya. Merek akan menghapus institusi kita. Oleh karena itu, mereka harus disingkirkan dengan kekuatan konstitusi.” (Kutipan dari ‘Jurnal Charles Pinsky, South Carolina berkenaan dengan Rencana Undang-undang 1789’ mengenai pernyataan Benyamin Franklin tentang imigrasi Yahudi). (Lihat, William G. Car, Yahudi Menggenggam Dunia, Terj. Mustolah Maufur (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993), hlm. 30, 31).

Itu lah karakter Yahudi. Mereka ibarat vampire, pengisap darah manusia. Jika dalam dunia tumbuhan, bangsa Yahudi adalah ‘benalu’: hidup menumpang tapi merusak dan merugikan, bahkan mematikan indung tempat dia tinggal. Dan dalam masalah keamanan mereka ibarat ‘duri dalam daging’. Sementara dalam masalah politik mereka adalah bangsa yang ‘pragmatis’ alias mau menang sendiri. (Mengenai politik pragmatis Israel, lihat Adian Husaini, “Mau Memang Sendiri: Israel Sang Teroris yang Pragmatis?” (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002).

Untuk itu, umat Islam tidak boleh percaya sedikit pun kepada bangsa Yahudi. Apalagi bekerjasama dalam bidang apa pun, tidak boleh terjadi. Bahanya begitu laten dalam politik, ekonomi, kebudayaan, masyarakat maupun militer. (Lihat, Muhsin Anbataani, “Mengapa Kita Tidak Berdamai Saja dengan Yahudi?” Terj. Salim Basyarahil (Jakarta: Gema Insani Press, 1412 H/1991 M). Dan tentunya, pengaruh Israel sangat jelas dalam mind-set dan perusakan worldview (pandangan-hidup), yaitu millah (Qs. 2: 120).

Dapat dibayangkan, Israel yang bukan penduduk asli Palestina saja dapat menjanjang bangsa Palestina. Maka dalih apapun yang digunakan kaum Zionis bahwa Palestina adalah Tanah-Airnya mutlak salah. Sejak purbakala, wilayah Palestina adalah Tanah-Airnya rakyat Filistine, atau bangsa Palestina sekarang.

Dalam puluhan tahun perdebatan di PBB, dalih kaum Zionis Internasional tentang hak-historis atas Palestina berdasarkan Kitab Injil Kuno, sudah terbantah dengan meyakinkan. Prof. Henry Cattan, seorang ahli sejarah dan hukum internasional kelahiran Jerusalem, dalam bukunya “Palestine, the Arabs and Israel: The Search for Justice” (1969), menegaskan secara ilmiah dan objektif, bahwa orang-orang Israel bukan penduduk asli Palestina. Sejak eksodus orang-orang Israel dari Mesir pada abad ke-12 SM, mereka sebenarnya menyebut wilayah Palestina. Kemudian mereka mengembara terus-menerus ke mana-mana, sampai ke abad ke-18 dan 19. Terutama ke Eropa Timur, Eropa Tengah dan Eropa Barat; dan menjadi orang Barat sama sekali. (Lihat, Roeslan Abdulgani, “Kata Pengantar”, dalam Paul Findley, “Mereka Berani Bicara: Menggugat Dominasi Lobi Yahudi”, Terj. Hamid Basyaib (Bandung: Mizan, cet. III, 1412 H/1992 M), hlm. 13).

Intinya, kaum Muslimin – bahkan seluruh dunia – tidak pantas untuk percaya kepada bangsa Yahudi. Namun penting pula dicatat bahwa kebohongan dan pengkhiatan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi bukan tanpa dukungan. Lobinya begitu kuat dan berpengaruh di Inggris, Prancis, Amerika Serikat bahkan negara komunis seperti Uni Sovyet. Pengaruhnya juga begitu hebat dalam PBB, FAO, UNESCO, IMF, dan organisasi penting lainnya. (Fuad ibn Sayyid Abdurrahman Ar-Rifa’i, “Yahudi dalam Informasi dan Organisasi”, Terj. Moh. Hamdan Usman Abu Fa’iz (Jakarta: Gema Insani Press, cet. II, 1422 H/2002 M).

Penting kiranya kita untuk bercermin kepada sejarah. Sejarah kemanusiaan yang penuh dengan berbagai bentuk pengkhianatan dan pelanggaran bangsa Yahudi. Sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh siapa pun yang mengaku beriman kepada Kitabullah, Al-Qur’an. Karena Allah telah mengabarkan di dalamnya bahwa Yahudi memang bangsa pengkhianat dan pelanggar janji. Bukan saja janji kepada manusia, janji mereka kepada Allah pun dikhianati. Fa‘tabirū yā ulil-abṣār!*

Penulis adalah pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Penulis buku “Salah Paham tentang Islam: Dialog Teologis Muslim-Kristen di Dunia Maya” (2012)

MAU TAU CARA BARAT MENGHANCURKAN ISLAM?

 

 Gambar

    Samuel Zwimmer, ketua asosiasi misionaris dalam kongresnya di Jerusalem tahun 1935, mengatakan , ” Sebenarnya tugas misionaris yang pemerintah lantik tuan tuan untuk bertugas di Negara Islam, adalah bukan untuk memasukkan umat Muslimin ke dalam agama Kristen, sebab mereka sudah ada agama dan etika.

 “Tugas tuan tuan ialah untuk mengeluarkan manusia Muslim dari Islam, agar jadi seorang yang tidak punya hubungan lagi dengan Tuhan, selanjutnya agar ia tidak terikat lagi dengan akhlak yang selama ini dianuti oleh umat itu. Dengan cara ini berarti tuan tuan akan menjadi pioneer dalam penjajahan di dunia Islam.”

“Tuan tuan harus menyiapkan berbagai ide untuk Negara Negara Islam supaya dapat menerima segala yang tuan tuan laksanakan, yaitu untuk menarik keluar Muslimin dari Islam. “

“Tuan Tuan sudah menggiring generasi muda Muslim yang tak ada kaitannya dengan Tuhan. Anak anak muda yang tak perlu tahu dengan hubungan itu. Jadi dengan cara itu tuan tuan sudah dapat mengeluarkan Muslimin dari agamanya. Tapi bukan berarti mereka sudah masuk Kristen.”

  Selanjutnya muncullah generasi Islam yang seiring dengan kehendak penjajah. Dimana mereka tidak mengutamakan kerja keras, pekerjaan yg bermamfaat dan penting. Mereka suka santai, suka nganggur dan suka mengejar kepuasan nafsu dengan apa saja. Malahan perkara sex itulah yang menjadi tujuan hidupnya, sehingga walaupun dia belajar tapi pelajarannya adalah untuk kepuasan sex. Kalau dia mencari harta maka harta itupun untuk kepuasan sex juga. Atau kalau dia menduduki jabatan jabatan tinggi maka jabatan itupun untuk pemuasan sex akhirnya.

Hai para misionaris ! sempurnakanlah tugas tuan tuan itu dengan sebaik baiknya…. (Juzuru Al Bala hal 275)

menurut Syeikh Abdullah Nashih Ulwan

  Setelah gagalnya perang salib pertama yang berlangsung selama dua abad dalam upaya mencabut Islam dari akarnya, orang-orang Kristen mulai mengadakan kajian yang cermat dan membuat program untuk menghancurkan umat Islam. Rencana mereka itu secara bertahap adalah sebagai berikut :

Pertama : Menghancurkan Pemerintahan Islam

Inggris, Yunani Italia, dan Perancis menggunakan saat lemahnya Daulah Utsmaniyah karena perselisihan yang berkecamuk di dalam tubuh Daulah itu. Mereka bagai segerombolan serigala lapar menyerbu dengan ganasnya, menguasai tanah-tanah daulah. Diantaranya adalah ibukota Daulah, Istambul. Kemudian diadakan perjanjian perdamaian Luzan. Inggris memberi isyarat kepada penghianat besar, Attaturk, bahwa Inggris tidak akan menarik pasukannya dari tanah Turki, kecuali setelah dilaksanakan kesepakatan dengan syarat-syarat berikut :

1. Menghapus Khilafah Islamiyah, mengusir khalifah dari Turki, dan merampas harta bendanya.

2. Turki berjanji untuk menumpas segala gerakan yang dilancarkan oleh para pembela khilafah.

3. Turki harus memutuskan hubungan dengan Islam.

4. Turki harus memilih undang-undang sipil sebagai penggamti undang-undang yang diambil dari hukum Islam.

Selain itu, menghapus mahkamah(pengadilan) syariah, sekolah-sekolah agama,wakaf, hukum waris, dan mengubah azan dengan bahasa Turki, mengganti huruf arab dengan huruf Latin,mengganti hari libur pada hari Jumat menjadi hari Minggu, dan semua ini terlaksana tuntas pada tahun 1928.

Pengkhianatan Attaturk berhasil melaksanakan segala persyaratan ini. Dan Inggris beserta para sekutunya mengakui kemerdekaan Turki. Mereka menyalami Attaturk atas keberhasilannya menghapus khilafah, mensekularkan Negara dan memerangi Islam.

 Ketika Curzon, menteri luar negeri Inggris, berdiri di majelis umum Inggris (The House Of Common) melaporkan apa yang terjadi di Turki, sebagian perwakilan Inggris memprotesnya. Merekapun menyangkal mengapa Inggris mengakui kemerdekaan Turki yang disekitarnya mungkin berkumpul Negara-negara Islam yang kemudian bersama-sama menyerang Barat. Curzon menjawab, “Kita telah menghancurkan Turki yang tidak memungkinkan mendirikan satu negarapun yang membelanya sejak hari ini.Sebab, kita telah menghancurkan kekuatannya yang terwujud dalam dua dimensi.: Islam dan khilafah.” Para hadirinpun bertepuk tangan,dan tidak terdengar lagi bantahan.

Kedua : Menghancurkan dan Menghapus Al-Qur’an

Hal ini dilakukan karena ajaran salib (Kristen) beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah sumber pokok kekuatan orang-orang Islam, sumber mereka untuk kejayaan, kekuatan dan kemajuannya yang telah berlalu.

1. Gladstone, yang menjabat perdana menteri Inggris selama empat kali (1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894) dalam majelis umum (the house of common) Inggris, sambil mengangkat Al-Qur’an, mengatakan, “Selama Al-AQur’an ini berada di tangan orang-orang Islam, maka Eropa sama sekali tidak akan dapat menguasai Dunia Timur. Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”

2. Seorang missionaris, William Jeford Balcrof, berkata, “jika Al-Qur’an dapat disisihkan dan kota Mekkah dapat diputuskan hubungannya dari Negara-negara Arab, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk melihat seorang Arab secara bertahap mengikuti kemajuan Barat, terjauh dari Muhammad dan sekitarnya.”

3. Seorang missionaris pendengki lainnya, Catly, berkata,, “Kita harus menggunakan Al-Qur’an sebagai senjata yang paling ampuh dalam Islam untuk melawan Islam itu sendiri, sehingga kita dapat menghancurkannya. Kita harus menerapkan kepada kaum muslimin bahwa yang benar dalam Al-Qur’an bukanlah baru, dan yang baru tidaklah benar.”

4. Seorang penguasa colonial Prancis di Aljazair, dalam peringatan seratus tahun kedudukannya, berkata, “Kita harus melenyapkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab itu dari kehidupan mereka, dan melenyapkan bahasa Arab dari lidah mereka, agar kita dapat berkuasa penuh.”

  Kenyataan ini menimbulkan kejadian unik di Perancis. Yaitu adanya usaha untuk melenyapkan Al-Qur’an dari jiwa pemuda Aljazair. Prancis mengadakan suatu eksperimen ilmiah, dengan memilih sepuluh pemudi muslimat berkebangsaan Aljazair yang oleh pemerintah Prancis dimasukkan di sekolah Prancis, diajari kultur Prancis, diajari bahasa Prancis, sehingga seolah-olah seperti seorang Prancis. Setelah sebelas tahun berlalu dari usahanya itu, sekolah mengadakan pesta meriah untuk melepas alumni. Diundang pula para menteri, ahli fikir dan para wartawan. Ketika pesta dimulai, semua hadirin dikejutkan dengan pemunculan pemudi-pemudi Aljazair yang mengenakan busana muslimat Aljazair. Surat kabar-surat kabar Prancis gempar dan bertanya –tanya. “Apa yang dilakukan Prancis di Aljazair, setelah berlalu seratus duapuluh delapan tahun dari masa pendudukannya?” La Couist, Menteri colonial Prancis menjawab, “Apa yang mesti saya lakukan, jika Al-Qur’an ternyata lebih kuat dari Prancis?”

 sumber http//eramuslim.com…

TOLERANSI?

Senin, 12 Desember 2011
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

JIKA barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.
Pada akhir tahun 1987 penulis sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.
Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh.
Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, “I come here to kill Muslims”. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!
Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.
Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.
Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat disitu”.
Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.
Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.
Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama. Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami;..Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”. (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191)
Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus dan Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.
Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari sau khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu shalat.
Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.
Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.*

Penulis adalah Direktur Program PKU ISID

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.