TOLERANSI?

Senin, 12 Desember 2011
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

JIKA barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.
Pada akhir tahun 1987 penulis sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.
Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh.
Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, “I come here to kill Muslims”. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!
Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.
Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.
Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat disitu”.
Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.
Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.
Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama. Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami;..Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”. (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191)
Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus dan Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.
Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari sau khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu shalat.
Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.
Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.*

Penulis adalah Direktur Program PKU ISID

BERGURU PADA IMAM AL-GAZALI

Oleh: Asmu’i
PERADABAN Islam terbangun dan tegak berbasiskan ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan peran ilmu itu sendiri, yaitu sebagai prasyarat untuk menguasai dunia akhirat sekaligus. Karena nilai penting ini, selain kata-kata derivatifnya, dalam al-Qur’an terdapat 91 ayat yang mengandung kata-kata ‘ilm, 67 ayat diwahyukan di Makkah, sisanya (24 ayat) di Madinah. Maka, jika saat ini umat Islam mundur, tentu karena terjadi krisis ilmu. Sehingga, tepat jika usaha membangun kembali peradaban Islam yang sudah nyaris lumpuh ini adalah dengan menegakkan kembali bangunan ilmu pengetahuan Islam.

Imam al-Ghazali telah dengan baik mencontohkan kepada kita ‘bagaimana pengembangan ilmu itu berkait erat dengan perkembangan Peradaban Islam’. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad ath Thusi Abu Hamid al-Ghazali. Beliau biasa dipanggil Abu Hamid. Sedangkan gelarnya adalah Hujjatul Islam dan Zianuddin. Bahkan, Ibn ‘Asakir melihat beliau sebagai mujaddid (pembaharu) Islam abad ke-5 Hijriah (baca: Ta’rif al-Ahya’ bi Fada’il al-Ihya’, Hamisy Ihya’ ‘Ulum al-Din, jilid 1). Beliau dilahirkan di Thabrani, sebuah Desa di Thusi Khurasan (450-505 H/1058-1111M).

Imam al-Ghazali dan Perang Salib

Imam al-Ghazali adalah seorang tokoh pemikir muslim yang hidup pada bagian akhir dari zaman keemasan Islam di bawah khilafah Abbasiah yang berpusat di Baghdad. Kala itu, situasi politik dan ilmiah sedang mengalami krisis, baik karena motivasi ideologis maupun etnis dan ambisi duniawi. Di sisi lain, kekuatan Kristen Eropa merupakan ancaman serius, yang pada akhirnya terjadi perang Salib pertama, yaitu pada tahun 1095 (baca: Kitab al-’Ibar wa Daiwan al-Mubtada’ wa al-Khabar). Pada 50 tahun pertama, pasukan Salib mendominasi peperangan. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syiria dan Palestina ditaklukkan.

Selama perang Salib tersebut, banyak kalangan yang mempertanyakan peran al-Ghazali. Namun, seiring dengan terbitnya kitab al-Jihad karya Ali al-Sulami, imam di masjid Ummayyad, Damaskus, dan tokoh perumus dan penggerak jihad melawan tentara Salib, peran al-Ghazali mulai terkuak. Bahkan, sebagaimana yang akan penulis jelaskan di bawah, peran beliau begitu penting dan menentukan dalam kemenangan yang dicapai oleh kaum muslimin setelah itu.

Upaya mendasar Al-Ghazali

Pada babak pertama perang Salib yang dimenangkan pihak musuh (tentara Salib), kondisi moral umat Islam begitu parah. Hal itu terjadi karena gaya hidup mewah pada kalangan elit, fanatisme mazhab (ashabiyah) yang parah, dan kerusakan pemikiran (baca: Ibn Katsir dalam Hakazha Zhahara Jaylu Shalahuddin wa Hakazha ‘Adat al-Quds). Maka tidak heran jika pada saat itu, seruan ulama kepada umat muslim untuk berjihad tidak mendapat tanggapan positif.

Kondisi yang demikian menjadi perhatian serius al-Ghazali. Kajian terhadap kitab Ihya’ Ulumuddin mengantarkan al-Kilani pada satu keyakinan bahwa kitab tersebut sengaja dipersiapkan al-Ghazali untuk menata kembali moral dan intelektual umat Islam kala itu. Jadi, yang al-Ghazali fikirkan tidak sekedar masalah perang Salib belaka, tapi masalah mendasar umat (moral dan keilmuan). Seruan ulama saat itu yang tidak diindahkan oleh umat Islam cukuplah menjadi bukti apa yang al-Sulami sampaikan dalam kitab al-Jihad benar adanya, yaitu bahwa memerangi pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan jihad melawan hawa nafsu.

Yang mendasar dan utama yang dilakukan para ulama seperti Al-Ghazali dalam menyembuhkan penyakit umat adalah dengan mengajarkan keilmuan yang benar. Ilmu yang benar akan mengantarkan pemiliknya kepada keyakinan, kecintaan pada ibadah, zuhud, dan jihad. Ilmu yang rusak akan menghasilkan ilmuwan dan manusia yang rusak, yang cinta dunia dan pasti enggan berjihad di jalan Allah. Ini masalah penting, karena itu, beliau mengawali pembahasan Kitab Ihya’ Ulumiddin dengan bab tentang ilmu (Kitabul Ilmi).

Ini menarik. Sebab, al-Ghazali ternyata memulai penanganan krisis yang terjadi di kalangan umat Islam pada saat itu ‘langsung kepada sumbernya’, yaitu hati/aqal. Hal ini sangat sesuai dengan pesan baginda Rasulullah saw, “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat mudghah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah al-qalb.” (HR. Muslim).

Mengenali Ulama

Ada dua perkara yang ditinggalkan Nabi saw untuk umatnya, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Siapa yang berpegang teguh kepadanya, maka tidak akan tersesat selamanya. Namun kenyataannya, tidak semua orang bisa memahami dua hal ini dengan baik. Karena itu, di samping keduanya, Rasulullah saw juga mewariskan para ulama, sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya ulama adalah ahli waris Nabi, para Nabi tidaklah mewariskan emas dan perak, yang mereka wariskan adalah ilmu. Barang siapa mengambil warisannya maka ia mendapat keuntungan yang sempurna.” (HR. Ibu Majah dalam Ibn Hajar al-Qalany, Fath al-Bary, juz 1). Peran penting ulama juga terungkap dari Hadits Nabi saw: “Bandingannya para ulama di bumi ini samalah seperti bintang-bintang di langit. Ia dijadikan pedoman dalam kegelapan di laut dan di darat. Kalau bintang-bintang itu pudar, mereka yang berpandukannya nyaris sesat” (Riwayat Imam Ahmad).

Hadits-hadits ini secara tegas menggambarkan hubungan erat antara peran ulama dengan ilmu. Para ulama inilah yang akan meneruskan misi kenabian, yakni amar ma’ruf nahi munkar. Bagi al-Ghazali, aktivitas amar ma’ruf nahi munkar ini adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Karena itu, ia sangat penting. Jika ia tidak ada, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, masyarakat bodoh, kesesatan tersebar, bahkan satu negeri akan binasa. Ini telah Allah swt nyatakan secara jelas dalam QS. Al-Maidah: 78-79. Bahkan, tidak adanya amar ma’ruf nahi munkar dapat menyebabkan binasanya seluruh kaum, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan di antara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).

Melihat penjelasan ini, kita tidak bisa serta merta melabel seseorang yang karena telah melalui jenjang pendidikan tertentu sebagai seorang ‘alim (ulama). Untuk bisa memetakan hal ini, alangkah baiknya melihat apa yang disampaikan oleh Al-Khalil bin Ahmad: “Arrijaalu arba’ah: Rajulun yadrii wa yadrii an-nahu yadrii fadzalika ‘alimun fas-aluhu, wa ra julun yadrii wa laa yadrii an-nahu yadrii fadzalika naasin fa dzakkiruhu, wa rajulun laa yadrii wa yadrii an-nahuu laa-yaddri fa dzalika mustarsyidun fa-arsyiduhu, wa rajulun la yadrii wa laa yadriii an-nahuu laa yadrii fa dzalika jaahilun farfudhuhu.” (Baca: Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Diin: 86).

Demikianlah, orang alim itu adalah orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu. Orang ini paham apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Tidak sekedar itu, ia juga tahu hak-hak ilmu, kemudian menunaikannya. Artinya, walaupun seseorang itu sudah menempuh jenjang pendidikan tertentu, namun ia belum dikatakan sebagai seorang ‘alim kecuali setelah mengamalkan ilmunya. Hal ini telah diungkapkan juga oleh Ali ibn Abi Thalib, “innamal alim man amila bima alima.” Ini karena tujuan utama ilmu adalah untuk diamalkan. Dan amal itu sendiri harus dilandasi oleh ilmu. Atau dengan kata lain, orang alim itu hanya mengamalkan apa yang diilmuinya.

Berikutnya, orang alim itu tidak akan merasa puas dengan ilmu yang diketahuinya. Justru ia akan merasa perlu untuk belajar dan terus belajar. Dalam hal ini, Abdullah bin Mubarak berkata, “seseorang tetap dikatakan alim selagi ia terus menuntut ilmu. Jika ia menyangka ilmunya telah cukup, maka sesungguhnya dia masih bodoh.”

Dan dalam sejarah, kita tahu, Imam Ahmad yang telah hafal satu juta Hadits (menurut ar-Razi), tidak pernah lepas dari pena dan tinta. Saat beliau ditanya oleh seseorang, “sampai kapankah Anda membawa tinta?” Beliau menjawab, “membawa tinta sampai ke kubur”. Di sini, sungguh beliau bertekad mencari ilmu hingga ajal menjemput. Sebuah proses pendidikan yang tuula az-zaman.

Di masa hidupnya, al-Ghazali menunjukkan kepeduliannya kepada terbentuknya generasi ulama ini. Lebih dari itu, beliau bahkan memberikan keteladanan hidup. Ilmu yang tinggi dan peluang mendapatkan hidup mewah tidak menjadikannya lupa. Beliau justru memilih mendirikan pesantren di Thus, kampungnya sendiri. Tempatnya mengabdikan diri membina dan mempersiapkan kader-kader umat (ulama). Dari upaya ulama kala itu, seperti yang al-Ghazali lakukan inilah lahir satu generasi hebat, generasi Shalahuddin al-Ayyubi. Jadi, bukan seorang Shalahuddin saja, namun satu generasi Shalahuddin, yang pada 1187 berhasil memimpin pembebasan Kota Suci Jerusalem dari cengkeraman Pasukan Salib.

Hari ini, seiring dengan masuknya ide-ide/nilai-nilai Barat Modern dan Postmodern telah menyebabkan terjadinya pencampuran konsep-konsep Barat dengan konsep-konsep Islam atau masuknya konsep-konsep Barat ke dalam pemikiran Islam. Sehingga, usaha menegakkan bangunan ilmu lebih dimaksudkan pada mengarahkan kembali pemikiran atau pola pikir manusianya, agar sejalan dengan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dalam Islam.

Atau dengan kata lain, sejatinya, membangun peradaban Islam bukanlah membangun sarana prasarana fisik yang diberi label Islam, tapi mereorientasikan framework pemikiran umat Islam. Ini juga yang telah al-Ghazali contohkan. Dimana beliau dengan gigih dan cerdas telah meluruskan cara berfikir para filosof kala itu dalam bukunya ‘Tahafut Falsafah’.

Melihat uraian di atas, jika hari ini banyak pihak yang mengeluhkan kualitas para akademisi muslim, harusnya kita berkaca pada diri sendiri, apakah selama ini kita telah punya perhatian khusus menyiapkan kader-kader umat yang unggul. Silakan diteliti, apakah ada satu perguruan tinggi Islam yang bisa diharapkan untuk menyiapkan kader umat semacam itu? Jika belum ada, harusnya kita mulai dari sekarang untuk menyiapkannya….

Penulis adalah alumni ke-II Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor Ponorogo ’09. Sedang menyelesaikan Program Pascasarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Pemikiran Islam.

MARI BERDAGANG..

This slideshow requires JavaScript.

jika kamu membawa telur janganlah kamu bawa dalam satu tenpat, karna apabila telur itu jatuh maka tidak akan pecah semuanya

Pepatah ini mungkin sangat tepat bagi kita untuk memulai suatu usaha apa lagi jika kita mencoba suatu usaha yg baru pertama kali kita kenal. menurut beberapa orang ada beberapa hal yg harus diperhatikan dalam memulai suatu usaha sekaligus faktor2 yg akan mempengaruhinya antar lain:

1.LAKUKANLAH USAHA YG ANDA SUKAI(HOBI)

hal ini sangat diperlukan karna suatu usaha itu tidak akn berjalan apa bila kita tidak menyukainya,untuk itu usahakanlah untuk mencatat apa yg paling cenderung dari kesukaan kita(hobi) lalu tentukan mana yang akan kita realisasikan kedalm usaha yg akan kita jalani.

2.USAHA YG KITA LAKUKAN HARUS DISUKAI OLEH ORANG LAIN

ini sangat perlu karna untuk mencari pelangan/pembeli tentunya orang yg berkaitan akan mencari apa yg mereka suka dan mereka butuhkan. disini kita dibutuhkan untuk jeli membaca minat pembeli tentunya mempunyai nilai tanbah dari barang yg dijual pedagang lain.

3.BUATLAH DAPTAR BIAYA BARANG DAN OPRASIONAL UNTUK 3 BULAN PERTAMA

berapakah dana dari usaha yang akan kita jalani?Ingatlah untuk menambahkan biaya tanbahan yg lain. kita juga harus mempertimbangkan biaya hidup kita jika tidak ada sumber pendapatan yang lainnya. Bisnis mana yang mampu kita mulai? kita perlu tahu apa yang diperlukan untuk memulai dan menjalankan bisnis kita. kita perlu tahu segala sesuatunya. Alat apa yang anda butuhkan? Bentuk apa yang diinginkan? Berapa banyak dana yang anda butuhkan diawal? Persyaratan apa saja yang diperlukan untuk menjalankan bisnis kita? Berapa keuntungan yang dihasilkan dari masing-masing bisnis tersebut setiap tahunnya? Buatlah daftar pertanyaan, dan jawablah pertanyaan yang ada di daftar yg kita buat. berapa banyak waktu yg akan kita habiskan untuk usaha tsb? dan sebagainya.

4.JANGAN TERLALU BERANI BERSEPAKULASI(COBA-COBA)

saya kira inilah tujuan dari pepatah diatas, dalam suatu usaha itu wajib kita menemukan atau akan menghadapi 4 hal antara lain : UNTUNG,TIDAK UNTUNG TIDAK RUGI(hanya balik modal),RUGI,DAN BANGKRUT. ke 4 hal ini pasti akan kita hadapi, bandingkan saja untuk mendapatkan keuntungan kita di bayangi oleh 3 hal yg lain untuk itu jika ingin mulai usaha, usahakanlah kita memakai setengah dari modal yg kita miliki karna apabila terjadi 3 hal yg tidak kita inginkan bisa kita mengantisipasinya. jangan terlalu pokus/tergiur oleh keuntungan semata apa lagi ada rekanan lain mengajak anda untuk memulai suatu usaha bersama karna sering kali kita dapatkan apa yg bisa dilakukan orang lain belum tentu kita bisa melakukanya…

semoga apa yang saya uraikan diatas bisa menjadi gambaran untuk memulai suatu usaha dan bermamfaat bagi kita semua. janganlah berkecil hati dan kita harus optimis karna rasululloh pernah bersabda” pintu2 rezki itu ada sepuluh, yg sembilan pintunya ada pada perdagangan di dunia ini dan satu pintu ada pd yg lainya“.

semoga alloh menjadikan kita orang2 yg bersukur atas segala nikmat yg telah ia berikan dan menjadikan kita orang2 yg sabr dalm menerima cobaan..aminnn..

KECENDRUNGAN BANGSA-BANGSA YANG KALAH

oleh : ALWI ALATAS
BEBEAPA bulan yang lalu, saat seorang famili berkunjung ke Kuala Lumpur, kami mendengar ceritanya tentang perkembangan terbaru di Jakarta. ”Sekarang di Jakarta sedang tren anak-anak perempuan pakai celana pendek,” terangnya sambil geleng kepala. ”Kok bisa ya mereka tanpa malu berada di tempat umum dengan celana yang pendek seperti itu. Malah ada yang kalau sedang duduk atau menunduk, maka kelihatan bagian belakangnya.”

Saya tidak tahu seperti apa keadaannya di lapangan, karena saya hanya mendengarnya dari orang lain. Tetapi hal ini mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika Demi Moore tampil di film Ghost dengan potongan rambut pendek, tiba-tiba saja hal itu menimbulkan ’demam rambut pendek’ di kalangan perempuan-perempuan Indonesia. Sebagian besar dari perempuan-perempuan itu tentu saja Muslimah, dan mereka mengikuti model rambut yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama mereka sendiri.

Kejadian-kejadian semacam ini selalu berulang, dan tidak hanya berlaku di kalangan kaum perempuan. Banyak pria Muslim yang juga suka sekali mengikuti tren dan gaya hidup terbaru yang datang dari Barat, tanpa menimbang apakah itu sesuai dengan ajaran agamanya atau tidak. Semua yang datang dari Barat, dari bangsa yang sedang mendominasi peradaban modern, dianggap layak untuk ditiru. Sampai sekiranya mereka diajak untuk masuk ke lubang biawak, tentu mereka akan mengikutinya.

Kita mau tidak mau mesti mengakui bahwa tidak sedikit dari kaum Muslimin pada hari ini telah berperilaku kebarat-baratan. Mereka telah terbaratkan dan kita bisa menyebutnya sebagai ’westernized Muslims.’

Bagi kaum Muslimin yang baik pemahamannya dan lebih kuat komitmennya terhadap nilai-nilai Islam, fenomena ini tentu terlihat aneh, menyedihkan, sekaligus juga menggemaskan. Kaum Muslimin yang kebarat-baratan lebih suka berbahasa Inggris daripada berbahasa Arab, akrab dengan kalender Masehi dan lupa akan kalender hijriah. Melecehkan saudara yang memelihara jenggot atau saudarinya yang berjilbab, sementara pada saat yang sama senang mengikuti penampilan, gaya berpakaian, dan gaya hidup masyarakat Barat yang tidak sejalan dengan agamanya sendiri. Mengapa semua itu sampai terjadi? Apakah ini merupakan hal yang wajar?
Jika ditanya apakah fenomena semacam ini wajar atau tidak, maka jawabannya bisa dua. Kalau yang dimaksud dengan wajar di sini adalah bahwa hal itu normal dan pantas untuk dilakukan, maka jawabannya adalah ’tidak wajar.’ Tindakan ikut-ikutan semacam itu sama sekali ’tidak pantas’ dilakukan oleh orang-orang yang berakal dan memiliki prinsip dalam hidup. Sebagian besar perilaku ikut-ikutan tren itu dilakukan tanpa pertimbangan rasional dan intelektual, dan itu hanya merendahkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Tapi jika yang dimaksud dengan wajar di sini adalah ’fenomena sejarah dan peradaban yang biasa terjadi,’ maka jawabannya adalah ’ya, ini merupakan hal yang memang biasa terjadi.’

Budaya Inferior dan Pengaruh Islam
Fenomena ikut-ikut terhadap kebudayaan yang dominan tidak hanya terjadi pada kaum Muslimin, dan juga tidak hanya terjadi pada zaman modern ini saja. Sekarang ini, kaum Muslimin bukan satu-satunya pihak yang menyaksikan sebagian anggotanya terbaratkan. Banyak komunitas lain juga mengalami hal yang sama. Masyarakat Jepang yang menganut Shinto, juga banyak yang terbaratkan. Begitu juga sebagian masyarakat China yang menganut Budha dan Konghucu, segolongan masyarakat India yang Hindu, dan kelompok masyarakat dunia lainnya. Sejak dua abad terakhir, atau lebih, peradaban Barat telah tampil mendominasi dunia. Sebagai konsekuensinya, kebudayaan mereka menghegemoni peradaban dunia dan membuat sebagian masyarakat di luarnya mengalami inferiority complex dan cenderung mengikuti kebudayaan mereka, entah itu baik atau buruk, entah mereka memahaminya atau tidak.

Bangsa yang kalah selalu ingin mengikuti bangsa yang menang, demikian dinyatakan oleh Ibn Khaldun. Itu menjelaskan apa yang berlaku sekarang ini, dan apa yang berlaku juga di masa-masa yang lalu. Peradaban Barat sedang menang dan mendominasi, lantas bangsa-bangsa yang kalah cenderung mengikuti perilaku dan cara hidup mereka. Berdasarkan penjelasan ini kita dapat berasumsi bahwa jika yang unggul adalah peradaban lain, maka corak kebudayaan yang mendominasi adalah kebudayaan mereka. Sekiranya peradaban Melayu-Indonesia menjadi peradaban yang mendominasi dunia, maka kita akan mendapati sebagian orang Barat (dan juga bangsa-bangsa lainnya) menggunakan nama Rusdi, Agus, Siti, dan lain-lain. Sarung dan kopiah akan menjadi tren pakaian global; rendang dan nasi uduk/nasi lemak akan dijual di franchise-franchise internasional dan bergengsi; gamelan dan angklung mungkin akan lebih populer dari biola dan piano; Hikayat Abdullah menjadi rujukan sastra dunia; dan tokoh-tokoh seperti Walisongo masuk dalam kisah-kisah klasik yang mendunia. Ini hanya sebuah permisalan saja.

Membuat permisalan saja kadang tidak memadai. Kita memerlukan contoh nyata, dan itu bisa kita dapatkan di dalam sejarah. Barat tidak selamanya berada di atas dan Muslim tidak selalu berada di bawah. Ada kurun waktu kaum Muslimin pernah berjaya dan masyarakat Barat menjadi pihak yang kalah dan dipimpin. Pada masa itu, fenomena yang dijelaskan oleh Ibn Khaldun juga terjadiKetika Islam masuk ke Spanyol dan membangun peradaban yang indah selama beberapa ratus tahun, kebudayaan Arab-Muslim mendominasi kawasan tersebut. Peradaban Islam dikenal sebagai peradaban yang toleran. Komunitas Kristen Andalusia dipersilahkan tetap tinggal di wilayah Muslim dan diperbolehkan mempraktikkan agama mereka. Mereka hidup di quarter mereka sendiri atau tinggal sebelah menyebelah dengan kaum Muslimin.

Pada perkembangannya, mereka terpengaruh oleh kebudayaan Arab-Muslim dan mengambilnya ke dalam keseharian mereka. Cara hidup mereka yang mirip dengan kaum Muslimin membuat mereka kemudian dikenal sebagai orang-orang Kristen yang terarabkan, Mozarabic Christians atau kaum Kristen Mozarab.

Istilah Mozarab ini merupakan istilah yang menarik. Pendapat yang umum diterima menyatakan bahwa istilah ini bersumber dari kata Arab musta’rib yang artinya kurang lebih ’terarabkan’ (arabised). Namun Encyclopaedia of Islam menyebutkan bahwa teks-teks Hispano-Arab sendiri kurang mengenal istilah ini. Tidak tertutup kemungkinan istilah ini justru dimunculkan oleh kalangan internal Kristen sebagai kritik dan celaan terhadap rekan-rekan mereka di selatan Spanyol yang rela hidup di bawah dominasi Muslim.
Komunitas Kristen Mozarab tidak berkonversi ke agama Islam, tetapi mereka mengambil dan mempraktikkan banyak aspek dari kebudayaan Arab-Muslim. Pada saat itu posisi masyarakat Kristen Barat, khususnya yang berada di Spanyol, sangat inferior di hadapan peradaban Islam yang mendunia dan tumbuh dengan sangat cepat. Maka banyak dari mereka yang kemudian mengadopsi kebudayaan kaum Muslimin dalam hal bahasa, cara berpakaian, model rambut, pola pernikahan, kebiasaan berkhitan, pembatasan makanan, sastra, hingga musik. Kaum Kristen Mozarab pada masa itu dapat dijumpai di kota-kota penting di Andalusia, seperti Cordova, Seville, Merida, Toledo, dan kota-kota lainnya.

Jika pada masa sekarang ini kalangan Muslim yang terbaratkan menerima pengaruh berupa cara pakaian yang lebih terbuka dan vulgar, serta pola pergaulan lawan jenis yang bebas, masyarakat Kristen Andalusia yang terarabkan pada masa itu menerima pengaruh berupa cara berpakaian yang lebih sopan, pola hidup yang lebih higienis, serta kecenderungan untuk tidak makan daging babi. Perubahan pola hidup ini sangat signifikan dan begitu kontras jika dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lain. Pengamatan terhadap penduduk Kristen di Jiliqiyya oleh Ibrahim al-Turthusi memberi gambaran semacam ini:
Penduduknya… tidak menjaga kebersihan mereka dan hanya membasuh diri dengan air dingin satu atau dua kali saja dalam setahun. Mereka tidak pernah mencuci pakaian mereka sejak mereka mengenakannya hingga pakaian tersebut hancur di badan mereka, dan mereka mempercayai bahwa kotoran yang menempel di tubuh dan bercampur dengan keringat merupakan hal yang bagus bagi tubuh mereka dan membuat mereka tetap sehat. Pakaian-pakaian mereka sangat ketat dan banyak bagiannya yang terbuka, sehingga memperlihatkan sebagian besar anggota tubuh mereka.” Kendati demikian, mereka ini ”memiliki keberanian yang besar dan tidak pernah lari dari medan pertempuran…”

Kecenderungan penduduk Kristen terhadap budaya Arab-Muslim telah menimbulkan kekesalan saudara-saudara mereka yang lebih fanatik. Di Cordova pada pertengahan abad kesembilan, ketidaksukaan ini diekspresikan dengan cara melakukan ’teror’ di depan umum. Mereka melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan terhadap Islam secara terbuka. Mereka mengetahui bahwa penghinaan semacam itu di dunia Islam memiliki konsekuensi hukuman mati. Memang itulah yang ingin mereka lakukan: menjadi martir. Insiden-insiden semacam ini sempat berlangsung selama beberapa waktu hingga pemimpin ideologis mereka, Eulogius, ditangkap dan dihukum mati.
Eulogius dan kelompoknya telah membuat propaganda dengan menyatakan bahwa orang-orang Kristen telah ditindas di bawah pemerintahan Islam. Mereka mengeluhkan pengaruh kebudayaan Islam terhadap generasi muda Kristen yang mulai cenderung mengabaikan budaya mereka sendiri dan bersemangat mempelajari bahasa Arab dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Islam. Mereka cukup berhasil dalam memancing ketegangan antara pemerintah Muslim dan umat Kristiani di Cordova. Tetapi kecenderungan masyarakat Kristen dalam mengadopsi kebudayaan Muslim tetap berlangsung selama beberapa abad berikutnya.

Sebagian dari orang-orang Kristen di selatan ada yang bermigrasi ke utara Spanyol dan ditampung oleh kerajaan Kristen yang ada di sana. Mereka membawa kebudayaan Muslim bersama mereka ke tempat yang baru. Kerajaan Asturias yang menerima mereka pun menerimanya karena alasan-alasan praktis. Mereka memiliki keterampilan dan tingkat peradaban lebih baik yang bisa dimanfaatkan oleh kerajaan tersebut. Kaum Kristen Mozarab ini membangun gereja-gereja baru di Utara dan mengembangkan sastra dan kebudayaan di sana. Mereka mempertahankan penggunaan bahasa Arab pada komunitas mereka. Manuskrip-manuskrip mereka banyak diwarnai corak-corak yang khas.

Gereja-gereja mereka, yang dikenal sebagai gereja Mozarab, memiliki lengkung-lengkung arkade tapal kuda dan mirip dengan yang biasa di jumpai di gedung-gedung dan masjid Cordova. Bahkan liturgi dan senandung gerejawi mereka pun berbeda dengan yang ada di gereja-gereja Katolik dan dikenal dengan istilah Mozarab juga, walaupun yang terakhir ini mungkin bersumber dari tradisi Kristen Visigoth yang eksis sebelum masuknya Islam ke wilayah Spanyol.
Dengan jatuhnya Toledo ke tangan pasukan Kristen pada tahun 1085 dan proses reconquista yang sedikit demi sedikit mendesak kaum Muslimin ke selatan, pengaruh dan eksistensi kaum Kristen Mozarab semakin berkurang. Pihak Katolik yang semakin kuat pengaruhnya di Spanyol menilai praktik-praktik keagamaan kaum Mozarab sebagai penyimpangan dan berusaha menghapusnya. Kalau mereka memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menghapus pengaruh kebudayaan Islam di dunia Kristen, hal itu merupakan hal yang wajar. Selama berabad-abad peradaban Islam masih memimpin dunia dan daya pikatnya sulit untuk diabaikan oleh mereka-mereka yang ingin mencicipi kemajuannya.

Sebagaimana pernah kami singgung dalam tulisan yang lain, sikap kearab-araban ini tidak hanya berlaku di Andalusia, tetapi juga di beberapa wilayah Barat lainnya, terutama Sisilia. Sejak akhir abad kesebelas Sisilia yang sempat dikuasai Islam jatuh ke tangan bangsa Norman. Namun penguasa-penguasa Kristen generasi kedua dan berikutnya segera jatuh cinta pada kebudayaan Islam. Mereka menguasai bahasa Arab dengan baik, menggunakan gelar-gelar Arab, mencantumkan gelar Arab itu di dalam koin yang mereka cetak, mengundang dan mendanai para ilmuwan dan sastrawan Muslim, dan bersikap sangat toleran terhadap warga Muslim mereka -sikap yang sama sekali tidak akan dijumpai pada wilayah-wilayah Eropa yang dikendalikan oleh Katolik pada masa itu. Paus yang merasa kesal dengan sikap kekristenan yang ambigu dari raja-raja ini, menjuluki mereka sebagai ’sultan-sultan yang dibaptis’ (the baptized sultans) atau Krypto-Muslims.
Kecenderungan mereka terhadap kebudayaan Islam begitu menonjol sampai-sampai salah satu raja mereka, Frederick II (1208-1250), memprotes saat berkunjung ke Yerusalem dan tidak mendengar suara azan. Ia meminta Gubernur kota tersebut agar memerintahkan para muazzin mengeraskan azannya seperti biasa karena ia suka mendengarnya. Saat meninggal dunia, ia minta dikuburkan dengan menggunakan kain kafan, sebagaimana tradisi umat Islam. Sikap cenderung pada kebudayaan Islam di Sisilia ini tidak hanya berlaku di kalangan para raja, tetapi juga rakyat biasa.

Seorang pengembara Muslim bernama Ibn Jubayr mencatat beberapa kebiasaan Muslim yang diadopsi oleh komunitas Kristen saat ia berkunjung ke pulau itu pada tahun 1185. Ibn Jubayr menyebutkan bahwa kaum perempuan di pulau itu banyak yang mengikuti cara berpakaian kaum Muslimin, termasuk menggunakan kerudung. Masyarakat Kristen di pulau tersebut juga tidak makan daging babi. Namun, karena tekanan Vatikan, pengaruh dan eksistensi umat Islam di pulau tersebut terus dikikis hingga akhirnya terhapus sama sekali pada tahun 1300.

Hal semacam ini selalu berlaku di sepanjang sejarah. Bangsa yang inferior cenderung mengikuti bangsa yang lebih superior secara politik dan budaya. Hal itu juga yang sedang terjadi pada banyak kaum Muslimin hari ini. Pertanyaannya adalah, sampai kapan kaum Muslimin akan membiarkan peradabannya terus berada di posisi yang inferior? Dan akhirnya, terlepas dari kekalahan budaya yang mereka derita, semoga kaum Muslimin yang hidup di zaman modern ini mampu bersikap independen terhadap penetrasi budaya Barat, seperti sikap yang diambil Malik Bennabi saat ia memilih untuk tidak bersikap inferior ataupun superior terhadap kebudayaan Barat.

Ia lebih memilihnya untuk menempatkan peradaban Barat sesuai dengan konteks sejarahnya. Dengan begitu kaum Muslimin akan memahami bahwa masyarakat Barat pun pernah kalah secara budaya dan kedigdayaan mereka hari ini juga tidak akan bertahan selamanya. Dari sana kaum Muslimin bisa membebaskan diri mereka dari sikap ikut-ikutan yang bodoh dan tidak perlu, dan kemudian merencanakan langkah-langkah strategis untuk membangun kembali peradaban mereka yang tengah terpuruk. [Kuala Lumpur, 17 Muharram 1431/3 Januari 2010/ www.hidayatullah.com]

Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

QUR’AN DAN KORAN

Sore ini cukup dingin,membuat kaki2ku bertanbah pegal sehabis kerja seharian tapi tak membuatku untuk melaju kedapur untuk memasak nasi, kulihat masih tersisa panci bekas teman memasak mie semalam entah karna lupa atu terburu-buru panci yg penuh sisa2 bunbu mie yg sudah mengering aku cuci walau sedikit lengket. gabus pencuci piring yg sudah berbulan-bulan usianya aku buang karna sudah tidak mampu lgi menampung busa sabun cuci piring hanya meningalkan lendir yg tak mau pergi juga walau kuperas sampai otot2 tanganku kaku karna dinginya air. sambil menungu nasi matang dan berharap teman koki kami segera memasak sayur buat menganjal perut yg sudah buncit karna kelebihan lemak dan sudah lama tak terurus, aku beranjak ke komputer dan mulai membuka-buka e-mail dan situs paporitku ERAMUSLIM. mataku lansung tertarik oleh sebuah berita artikel dengan judul “KEAZAIBAN UMAT DI AKHIR ZAMAN” yg isinya segala tingkah dan laku manusia yg terbalik dan benar2 tidak sesuai dengan hati nurani diantaranya,orang2 pintar dan kaya bisa lepas dari korupsi dan tidak dihukum sedangkan nenek2 tua yg hanya mencuri pisang karna kelaparan harus dipenjara,jika ada orang yg melecehkan suatu agama maka akan di anggap sbg kebebasan berpendapat dan berexpresi dan jika sebaliknya ada orang2 yg ingin menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya maka akan dicap radikal bahkan teroris,orang2 begitu cepat percaya terhadap apa yg ditulis didalam koran media dan tv yg hanya buatan manusia dan belum teruji kebenaranya sebaliknya orang akan engan bahkan tidak mau mempercayai apa yg dikatakan alloh dalam al qur’an,orang yg selingkuh diangap biasa2 saja sebaliknya orang yang berpoligami diangap menyalahi atuaran bahkan dikatakan melecehkan kaum wanita. saya jadi teringat bahwa tanda2 hari kiamat salah satunya adalah turunnya DAZZAL yg menawarkan surga namun hakekatnya adalah neraka begitu pula sebaliknya menawarkan neraka namun hakekatnya adalah surga, aku hanya tertegun dan merenungi apa yg terjadi di zaman ini tak diragukan lagi kita telah sampai di akhir zaman, masih pantaskah kita hanya duduk dan berpangku tangan? tanpa melakukan sesuatu untuk menyambut tanda-tanda berikutnya? semoga alloh meneguhkan hati kita untuk selalu di jalanya dan semoga kita menjadi orang2 yg terhindar dari fitnah dazzal…amin ya robbal alamin…

pemilu oh PEMILU

akhir-akhir ini hampir disemua media di indonesia tak lain dan tak bukan yg diberitakan selalu mengenai seputar pemilu yg dihajatkan di negeri ini sekali 5 tahun,tak terasa sudah tiga kali aku menunaikan hak memilihku sebagai warga negara dan selama ini ternyata belum juga merasakan perubahan yg begitu signifikan entah apa sebabnya. sepertinya apa yg diharapkan rakyat negeri ini belum juga terwujud, kita kadang kadang sebagai warga negara sampai bingung sebenarnya apa yg salah selama ini,mungkin akan setebal kitab kuning jika menyimak dan mendengar penjelasan para pakar politik dinegeri ini yg bagaikan jamur dimusim pemilu. para calon calon pemimpin dinegeri ini mulai unjuk gigi untuk menjual janji-janji yg entah dari dulu berputar pada satu koridor perubahan dan kesejahteraan yg selalu menjadi menu utama dalam kampanyenya.pemilu yg terkesan menguras kantong belanja negeri ini benarkah akan sebanding dengan hasil yg akan diharapkan? apakah pemimpin-pemimpin yg terpilih nanti telah sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat entahlah tak ada yg bisa menjamin.
Tidak bisakah dari sekian ratus juta penduduk negeri ini mendapatkan pemimpin yg beriman,taqwa,handal,cerdas dan bisa bertindak tepat disaat situasi yg tidak menguntungkan,bisakah pemimpin kita ini memimpin kita untuk mengejar ketertingalan dan keterpurukan negeri ini dengan negara lain berapa banyak pertanyaan serupa yg mungkin akan kita gantungkan kepada pemimpin-pemimpin kita nanti.71946_deklarasi_pemilu_damai_pilpres_2009 saya hanya berharap semoga pemilu kali ini adalah merupakan gerbang dari lahirnya pemimpin pemimpin yg amanah dan penuh tangung jawab pemilu kali ini semoga menjadi titik tolak kebangkitan bangsa ini dari segala bentuk krisis yg parah dinegeri ini baik itu moral,ekonomi,politik,hukum dan sysetem di negeri ini.
semoga umat islam dinegeri ini menjadi kunci kunci kesuksesan umat islam dunia dengan terpilihnya pemimpin-pemimpin yg akan menjadi pengenban amanah umat islam serta mengulang kembali sejarah kejayaan islam dimasa lampau aminn…

BELAJAR DARI KOREA

701783_1_6 ada pelajarn yg menarik dari negeri ginseng ini antara lain sistem kerjanya yg “pali pali”(cepat-cepat) dan maskan ciri khas korea yg bernama “kimci” saya hanya ingin mengurai kelebihan dari kedua hal tersebut.
1.kerja “pali-pali” orang korea sudah terbiasa bekerja secara cepat-cepat banhkan bukan hanya cepat tapi mereka sudah terbiasa kerja dari pagi hinga pagi lagi atau biasa disebut kerja “olaite”/”ceria” dan sistem kerja seperti itu biasa mereka lakukan pada saat musim gugur dan musim semi, tetapi kadang kala kalau orderan mereka banyak pada saat saat musim dingin dan musim panas permintaan melewati target maka mereka biasa bekerja lembur.sebenarnya ada yg menarik dari cara kerja mereka ini kalau kita kaitkan dengan keadaan kita yg ada di indonesia khususnya. orang korea bekerja cepat cepat pada saat musim gugur dan semi tujuanya adalah untuk menyimpan stock barang nanti pada saat musim dingin dan musim panas karna pada saat musim dingin dan musim panas banyak membutuhkan energi listrik yg cukup tingi dari pada musim semi dan musim gugur sebab pada saat musim ini pemanas ruangan(nalo) dan kipas angin tidak terlalu dinyalakan secara terus menerus bahkan kadang kadang tidak dinyalakan berbeda sebaliknya pada saat musim dingin dan musim panas.pada musim dingin dan musim panas kerja orang korea tidak terlalu diburu-buru(normal) sebenarnya langkah masyarakat korea ini bisa kita tiru terutama di indonesia yg mayoritas penduduknya beragama islam, karna tiap tahun kita akan menjalankan ibadah puasa dan kegiatan dibualan puasa sangat mirip dengan keadaan pada saat musim dingin dan panas di korea kita bisa bekerja dengan level dan aktivitas lebih tingi lagi sebelum datangnya bulan suci ramadan sehinga ibadah dibulan ramadan lebih terpokus dan istirahat yg cukup. 701783_1_16
2. makanan khas korea “kimci” makanan ini sejenis sayuran kol/sawi yg dibumbu ala korea mengenai bahan2 bumbunya saya kurang paham dan car pengolahanya penulis sendiri kurang tahu akan tetapi mengenai rasa dari kimci bisa saya ceritakan sedikit.masakan ini adalah sayur wajib bagi orang korea tanpa kimci maka sesedap apa pun masakan nya akan terasa hambar bagi orang korea tetapi bagi siapa pun diluar oarng korea apa bila mencoba namya kimci ini pasti akan berkata”wah tidak enak” rasanya asin,kecut,baunya tidak sedap dsb.akan tetapi disinilah sebenarnya rahasia makan orang korea, lidah mereka dilatih untuk memakan masakan yg tidak sedap karna sudah terbiasa memakan yg tidak sedap alias masakan yg rasanya tidak karuan maka apa pun yg akan dimakan oleh orang korea akan terasa enak sekalipun menurut kita tidak sedap.inilah pelajaran yg paling berkesan dikorea kalo dalam kehidupan ini kita sering bertemu yg tidak enak dan terbiasa dengan kesusahan maka kalau kita menemukan sesuatu yg enak dan kebahagiaan maka rasa sukur kita kepada pencipta ini begitu besar dan kalaupun menemukan yg kurang enak dalam hidup ini toh kita sudah terbiasa.701783_1_14701783_1_7
APA YG MENURUT KITA ENAK BELUM TENTU MENURUT ORANG JG ENAK BEGITU JUGA SEBALIKNYA.
APA YG KITA ANGAP BAIK BELUM TENTU MENURUT ORANG LAIN AKAN BAIK.701783_1_12701783_1_20
marilah kita terima semua yg telah digariskan oleh snag pencipta semoga kita tergolong kedalam orang orang yang bersabar dan bersukur.aminn
ya alloh aku serahkan urusan ku kepadamu ya robbi bimbinglah kami kejalan yg lurus…

korea, 10 maret 2009

lagu tukang ojek

lagu ini sedikit mengambarkan kehidupan bangse sasak yg biasanya kerja disawah karna terjadinya moderenisasi yg melibas segalanya termasuk orang2 yg ada didasan kami untuk mencari penghidupan cepat dan gampang. semua terjadi seiring makin majunya cara tanam dan moderenisasi pertanian sekarang ini yg dulunya tenaga sapi digantikan oleh kekuatan dan epesiensi traktor tak perlu lagi mencari buruh untuk mencangkul disawah,dulunya orang2 berlomba-lomba tolong menolong untuk mengerjakan sawah beramai ramai setelah makin sulitnya kehidupan rasa memupuk kebersamaan dari masyarakat desa mulai terkikis dan mulainya penananaman tenbakau dimana mana yg menjanjikan keuntungan yg berlipat, perawatanya lebih gampang dan tidak terlalu membutuhkan tenaga buruh. semua berjalan begitu saja meningalkan kenangan2 yg indah sewaktu inak saik kami dateng membawa makan siang buat kami sehabis seharian membatu tuak menanam dowong(benih padi) disawah. alangkah nikmatnya kami makan dipematang sawah sambil bercanda dengan sepupuku sementara saik(bibi) menemani tuak makan di das(rumah2han disawah). akankah aku dapati lahapnya makanku dan tentramnya hati ini  begitu nikmatnya kami makan walau hanya lauk kami seadanya, dapatkah aku nikmati lagi enaknya sayur nangka dimasak santan plus bajo(ikan asin).

   semua berjalan begitu saja  tanpa bisa dibendung , ganasnya kehidupan ini membuat kami lupa bahwa ketentraman dan kedamaian bukan hanya kita dapatkan dan kita ukur dari suatu penguasa yg bernama “UANG”.

 ya alloh jangan jauhkan diriku dari petunjukmu,jangan jadikan kami orang-orang yg engkau murkai dan jangan jadikan kami orang yg engkau sesati.

wassalam,..

 korea,25 dec 2008

peta lombok

map-home

suku sasak

suku sasak adalah suku yg mendiami pulau lombok adapun pulau lombok dibagi menjadi 4 kabupaten

1.kab.lombok barat ibukotanya giri menang

2.kab.lombok utara ibukotanya tanjung yg merupakan kabupaten termuda diNTB

3.kab.lombok tengah ibukotanya di praya

4.kab.lombok timur ibukotanya selong

kota madya mataram ada di mataram.

bahasa suku sasak antara lain: 1.bahasa selaparang bisa ditemukan di kab.lombok timur dan sebagian menyebar di lombok barat.       2.bahasa pejangik bisa kita temukan di lombok tengah,lombok barat dan mataram.                                  3.bahasa pujut bisa kita temukan di kec.pujut dan sebagian kec.jongat lombok tengah.                        4.bahasa dayen gunung  bisa kita temukan didaerah lombok utara,yaitu ditanjung,pemenang,bayan dan sekitarnya.

 demikian sekilas tentang suku sasak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.