TUAN GURU KH.ZAENUDDIN ABD. MAJID (Maulana Syeikh)

imagesSuatu hari di madrasah al-Shaulatiyyah, ada sesuatu yang luar biasa, tepatnya kesedihan yang susah tergambarkan dengan kata-kata. Kesedihan akibat kehilangan yang teramat dalam. Kesedihan yang berbaur dengan kebanggaan. Kehilangan yang bertabur dengan keharuan. Saat itu Mudir al-Shaulatiyyah membuka rahasia hatinya atas cintanya yang teramat dalam pada muridnya, Zainuddin. Cerita ini adalah cerita gairah ahli ilmu pada sukacita mengajar sepanjang tahun di madrasah tertua di jazirah Arabia itu. Cerita tentang kehadiran murid cerdas dan paling berpengaruh dalam sejarah madrasah itu. Dialah Zainuddin, putra Indonesia itu.
Suatu hari Zainuddin datang dengan penuh harap untuk menjadi murid di madrasah itu. Disandangnya ijazah sekolah dasar pemerintah Belanda, namun takpenting ijazah itu yang terpenting hari itu Zainuddin memasuki halaman madrasah itu. Hari itu Zainuddin diterima oleh guru Muda bernama Hasan bin Muhammad. Guru muda yang nyaris seumuran dengan Zainuddin.
Hari itu juga sang guru meminta Zainuddin agar siap diuji. Ujian pun berjalan lancar. Berdasarkan hasil tes itu, Zainuddin dinyatakan lulus dengan kenyataan yang tidak dibayangkannya. Ia dinyatakan lulus di kelas tiga. Dalam rasa tidak percaya, Zainuddin memohon langsung pada guru muda yang berada di hadapannya agar ia diperkenankan tidak langsung di kelas tiga. Ia meminta agar bisa belajar dari kelas dua. Keinginannya itu tidak langsung diterima karena berdasarkan hasil placement test itu Zainuddin berhak di kelas tiga. Dengan pertimbangan yang disampaikan oleh calon murid cerdas itu, akhirnya ia diperkenankan masuk di kelas dua.
Bismillah, hari itu ia belajar di kelas dua.
Murid kelas tiga yang belajar dikelas dua itu ternyata murid luar biasa. Kemampuannya sangat luar biasa. Diikutinya proses belajar itu dengan mudah, namun justru kemudahan belajar bagi Zainuddin yang super cerdas itu membuat guru di kelas menjadi kurang nyaman. Ketidaknyamanan itu bukan bermakna negatif. Hal itu karena guru harus memiliki cara berbeda menghadapi murid al-Indonesiy itu. Ia bukanlah murid biasa dengan kemampuan rata-rata, namun dia adalah murid dengan kecepatan belajar yang luar biasa.
Guru kelas dua menyadari potensi muridnya dan progress murid tersebut dilaporkan kepada mudir atau kepala sekolah. Sidang dewan guru menetapkan Zainuddin untuk dinaikkan kelasnya. Sidang itu terasa istimewa karena gurunya menginginkan ia tidak naik kelas dengan kawan-kawannya atau naik ke kelas tiga. Sidang menaruh perhatian luar biasa pada murid fenomenal itu. Mungkin saja tidak seluruh guru tahu bahwa murid itu dahulu memang murid kelas tiga yang meminta ditempatkan di kelas dua. Sidang yang taklazim itu kemudian menempatkan Zainuddin dengan keputusan luar biasa. Zainuddin meninggalkan kelas dua dan melompati kelas tiga.
Zainuddin akhirnya diputuskan untuk ditempatkan di kelas empat. Bukankah dahulu ia meminta kelas tiga. Bukankah benar pertimbangan gurunya Hasan bin Muhammad bahwa kelas dua tidak cocok baginya. Bukankah itu berarti kelas tiga memang bukan untuknya. Ia sebenarnya murid kelas empat. Lalu dijalaninya tahun-tahun belajar di kelas empat itu. Sungguh di kelas ini juga ia menjadi murid yang luar biasa. Guru-guru di kelas empat justru menjadi kerepotan mengajar bukan karena menghadapi murid yang masuk kelas akselerasi tersebut. Para guru bukan repot karena harus mengajar murid dengan beberapa penyesuaian tersebut. Yang menjadi soal adalah guru super cerdas ini ternyata sama sekali tidak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran.
Menghadapi kelas Zainuddin, para guru tidak seperti menghadapi kelas yang lain. Para guru harus belajar ekstra sebelum masuk kelas Zainuddin. Para ulama itu benar-benar harus siap jika masuk mengajar di kelas Zainuddin. Para ulama itu harus benar-benar siap mengajar jika masuk ke kelas Zainuddin. Para guru bangga memiliki murid cerdas tersebut namun tentu saja kebanggaan itu harus berimbas pada keseriusannya belajar mempersiapkan diri menghadapi muridnya, Zainuddin dan kawan-kawan.
Dikelas empat Zainuddin juga mendapat teman baru yang justru telah mengenyam pelajaran kelas tiga. Lama belajar temannya saat kelas tiga dahulu dan juga umurnya tentu saja berbeda dengan Zainuddin. Dikelas ini lagi-lagi Zainuddin membuat teman sekelasnya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin murid dari Lombok itu tidak kesulitan sama sekali dalam semua mata pelajaran. Maulana Hasan bin Muhammad juga begitu riangnya setiap kali mengajar di kelas Zainuddin.
Syaikh Hasan kerap membawa karangannya ke dalam kelas Zainuddin. Salah satu kitab karangannya adalah al-Taqrirat al-Tsaniyyah syarah al-manzumat al-Baiquniyyah. Saat dikelas itu, sang Syaikh meminta Zainuddin mengoreksi (mentashih) karangannya langsung di depan kawan-kawannya. Syaikh Hasan yang bergelar al-Muhaddis al-ushul tersebut tidak memintanya secara personal namun permintaan tersebut ditunjukkan secara terbuka di depan teman-teman Zainuddin. Secara nyata (hal) Maulana al-Hasan menyatakan bahwa muridnya super cerdas itu adalah ulama yang berhak mentashhih kitab karangan ulama, dalam hal ini tidak lain adalah gurunya yakni ulama al-Shaulatiyyah yang amat disegani. Guru murid itu ternyata ulama.
Saat suasana belajar di kelas itu, Zainuddin menolak permintaan gurunya mengoreksi kitab tersebut namun sang guru terus meminta agar Zainuddin memeriksa kitab karangannya. Zainuddin malu pada dirinya dan juga sungkan kepada temannya. Zainuddin merasa diri sangat tidak layak mengoreksi karangan gurunya dan apalagi itu dihadapan kawan-kawan sekelasnya. Kitab itupun (terpaksa) diterimanya dari sang guru dan didekapnya erat di jalanan pulang ke kosannya sambil menikmati pikirannya yang berkecamuk tentang hari belajar yang takwajar itu.
Sampai akhirnya beliau membaca kitab tulisan gurunya tentang ilmu hadits tersebut. Benar saja ujian khusus dalam bentuk koreksi kitab oleh Maulana al-Hasan telah menempatkan murid cerdas itu pada bagian khusus di hati para ulama haramain tersebut. Ia dengan penuh ta’zim menyampaikan catatannya pada kitab tersebut sebagai masukan atau koreksi. Dengan hati-hati ditulisnya catatan koreksi itu. Dengan penuh kehati-hatian pula demi menjaga ta’zim disusunnya ungkapan yang tepat ketika memberi catatan koreksi tersebut:
Untuk beberapa pertimbangan beliau menulis: lau kana kadza lakana ahsan. [Seandainya ditulis begini mungkin lebih cocok]. Beliau bercerita bahwa komentar itu juga tidak sulit namun adab kepada guru itu sangat sulit dijaga. Beliau khawatir tidak tepat dalam memberi masukan atau koreksi buku tersebut namun beliau lebih khawatir jangan sampai komentarnya tersebut menjadi kurang sopan (su’ul adab) kepada gurunya. Koreksi beliau pada buku tersebut kurang lebih tiga atau empat tempat.
Para kawan dekatnya juga menyadari keahlian Zainuddin. Syaikh Zakaria Abdullah, kawan sekelasnya dari Sumatera. Seorang murid al-Shaulatiyyah yang ahli bahasa itu mengenang bagaimana ia takkuasa membendung hasratnya mengalahkan Zainuddin. Zainuddin adalah kawan dekatnya sekaligus saingan beratnya. Zainuddin adalah sahabatnya sekaligus kompetitor tangguhnya di al-Shaulatiyyah. Zakaria minimal telah belajar di al-Shaulatiyyah lebih lama daripada Zainuddin. Zakaria maksimal belajarnya, sempurna pula rajinnya merasa bahwa suatu saat nanti ia dapat mengalahkan Zainuddin sekali saja.
Sampailah pada suatu hari ia menemukan cara jitu mengalahkan classmate-nya itu. Itu jelang ujian akhir tahun dan salah satu mata ujiannya adalah Tafsir. Salah satu referensi tafsir itu hanya ada di perpustakaan al-Shaulatiyyah dan tidak dijual bebas. Bergegas ia menuju perpustakaan al-Shaulatiyyah dan meminta kepada penjaga perpustakaan itu agar kitab tersebut dipinjaminya dan disimpankan untuknya untuk diambilnya nanti. Ia juga berpesan agar tidak memberi tahu siapapun yang mau meminjam buku itu.
Sambil menyusuri jalanan kota Makkah ia kembali ke kosannya. Dalam terpekur mengukur jalanan itu, ia menaruh yakin bahwa paling tidak di pelajaran tafsir ia akan mampu mengalahkan Zainuddin. Rupanya Zainuddin juga mencari kitab yang sama. Suatu hari Zainuddin menuju perpustakaan itu untuk meminjam kitab yang sama. Ia berusaha membolak-balik kitab-kitab tersebut. Nihil. Takjua dijumpainya kitab tersebut. Ia yakin kitab itu ada dibarisan atau jejeran buku-buku tafsir tetapi kini kemana buku itu. Ia kemudian berpikir bahwa buku tersebut pasti sudah ada yang meminjamnya.
Zainuddin pun bergegas menuju penjaga perpustakaan tersebut. Sang penjaga mengatakan bahwa dia tidak tahu tentang buku itu. Zainuddin pun bertanya lagi untuk menepis keraguannya bahwa buku itu memang pernah ada di perpustakaan. Tanyanya yang ragu dan berulang itu meyakinkan dirinya bahwa sang penjaga agaknya menyimpan sesuatu. Diyakininya dari raut mukanya dan nada serta gaya bicaranya yang tertahan itu, sang penjaga menyimpan konspirasi dengan peminjam buku tersebut.
Zainuddin lalu mendekatkan wajahnya kepada penjaga itu dan berkata dengan setengah berbisik, ”siapa sebenarnya yang pinjam buku itu, tolong beri tahu saya“. Awalnya sang penjaga takbergeming namun akhirnya dia membisikkan kepada Zainuddin agar rahasia konspirasi penjaga dengan siapa yang meminjam buku itu tidak bocor. Sudahlah, kalau Zakaria yang meminjamnya pasti aku akan dapat meminjamnya.
Dalam langkah berpaut tanya yang tak selesai ia pun menuju kosan Zakaria. Dia berdiri ragu didepan pintu. Salam pun terucap dan sang pemilik kosan pun keluar. “Saya mau pinjam buku itu, berikan saya membacanya karena sudah Anda pinjam”. Betapa terperanjatnya Zakaria karena ternyata kongkalikong-nya dengan penjaga perpustakaan terbongkar. Walaupun begitu tekadnya mengalahkan Zainuddin di mata pelajaran ini tetap dikukuhkannya. Ia juga semakin kukuh meyakinkan kawan baiknya tersebut bahwa bukan dia yang meminjam buku tersebut. Mata batin Zainuddin melihat gejala ketidakwajaran itu namun begitu, tampaknya ia lebih memilih sabar dan kemudian berpamitan pada kawan baiknya tersebut. Ia terjebak dalam dilema antara ingin benar membaca buku itu dengan membongkar trik takmanis kawannya itu dan mengukir sabar bahwa persahabatan lebih utama dibandingnya meraih rangking di kelas.
Cerita ini tak terungkap jika saja Syaikh Zakaria, ulama sekaligus pedagang serta pengarang cerdas tidak menceritakannya sendiri kisah konspiratif tersebut. Untuk mengalahkan Zainuddin ia harus menyembunyikan kitab referensi tersebut dan membacanya sendiri dengan harapan pembaca tentu tahu isi kitab tersebut dan tentu dapat menjawab soal-soal ujian itu dengan mudah. Praduganya terkubur ketika hasil ujian diterimanya. Ia menatap sahabatnya itu dalam rasa kagum yang teramat dalam. Bagaimana mungkin Zainuddin mampu menjawab dengan demikian sempurna setiap soal dalam kertas ulangan itu. Bahkan di beberapa jawaban tersebut Zainuddin merangkai jawabannya dengan syair (puisi) secara spontan saat ujian itu.
Zakaria mengubur hasratnya menyaingi Zainuddin dan serta merta mendayung rasa kagumnya pada kawannya itu. Zainuddin yang menjadi korban upaya cerdas menekuk langkahnya yang selalu sukses juga sesungguhnya tahu itu namun jika saja tidak diceritakan oleh sahabatnya itu maka cerita kekaguman yang berbau sabotase itu takkan terungkap. Zakaria niatnya hanya menguji apakah dirinya mampu mengalahkan sahabatnya itu dalam hal nilai bukan semata ingin mengalahkan atau menjatuhkan Zainuddin. Ia juga ingin menguji kadar kealiman kawannya itu jika saja materi tersebut ujian tersebut luput dari belajarnya.
Nyatanya kealiman Zainuddin semakin memesona dirinya, kawannya, guru-gurunya dan juga seluruh keluarga al-Shaulatiyyah. Pesona kekaguman itulah yang diceritakan bahwa bagaimana sedihnya keluarga besar al-Shaulatiyyah ketika Zainuddin tamat dan pulang ke Indonesia. Benar saudaraku, ini bukan cerita kekaguman namun ini adalah cerita kesedihan atas kehilangan murid terbaik al-Shaulatiyyah. Tamatnya Zainuddin telah menjadi prasasti abadi kebanggaan al-Shaulatiyyah namun juga kepergian Zainuddin dari halaman al-Shaulatiyyah telah menciptakan rasa dan aura kehilangan yang tiada tara bagi al-Shaulatiyyah.
Saudaraku, tentu yang pernah belajar langsung kepada Maulana al-Syaikh tahu bahwa sekian pujian yang disampaikan oleh guru dan pimpinan madrasah al-Shaulatiyyah. Pujian al-Syaikh Amin Kutbi, madah Syaikh Salim, ikrar Syaikh Hasan Masysyath, sanjungan kawan-kawannya, semua itu bukan semata pujian. Itu semua bahasa batin, nyanyian jiwa, nada sukma yang mengalir pada diri para ulama besar itu dan mengalir dalam tutur magis itu. Ini bukan keceriaan menyaksikan bulan yang menerpa alam. Ini adalah nyanyian pujian dan kesaksian pada terang bulan yang menjadi suluh dalam gelap alam maya dengan segala kelebihan yang tidak dimiliki murid lain sepanjang sejarah al-Shaulatiyyah.cjw6u7uwiaagnfv
Ketika Zainuddin sudah tidak lagi di altar madrasah al-Shaulatiyyah itu kehilangan itu amat nyata. Kehilangan yang teramat sangat itu dirasakan oleh pribadi ulama besar bernama al-Syaikh Salim Rahmatullah, guru sekaligus mudir al-Shaulatiyyah kala itu. Kecintaaannya pada Zainuddin terungkap lewat tuturnya yang teramat dalam: cukuplah al-Shaulatiyyah punya satu murid saja asalkan seperti Zainuddin. Ia bernostalgia bagai waktu dahulu saat Zainuddin masih di al-Shaulatiyyah. Ia kerap bermimpi akankah ada murid al-Shaulatiyyah yang serupa atau mendekati kealiman Zainuddin.
Ungkapan Syaikh Salim itu benar dan jelas bahwa itu adalah bahasa cinta sekaligus bahasa kekaguman atas pribadi yang dicintainya. Zainuddin adalah putra terbaik yang pernah dididik di al-Shaulatiyyah. Zainuddin adalah murid terbaik yang pernah belajar di al-Shaulatiyyah. Zainudddin adalah pemuda terbaik yang melukis keshalihannya dengan belajar jutaan hikmah dari guru-gurunya. Zainuddin adalah anak emas yang telah dilahirkan oleh alam dan dibesarkan di al-Shaulatiyyah. Zainuddin adalah kekasih Allah yang dirasakan hikmahnya oleh al-Shaulatiyyah sepanjang zaman.
Mudir menyadari itu. Mudir menyadari kehilangan yang tiada tara itu. Mudir menyadari bahwa Allah belum menitipkan lelaki cerdas melebihi Zainuddin. Gedung al-Shaulatiyyah seakan merana, penghuninya nelangsa, guru-guru nyaris kehilangan gairahnya. Lorong-lorong bisu, kelas kaku, halaman pucat pasi. Musim demi musim hanya menyimpan kenang, akankah ada Zainuddin-Zainuddin lagi yang datang ke al-Shaulatiyyah untuk belajar. Sampai wafatnya Syaikh Salim tak jua dijumpai pengganti murid yang sempurna keshalihan dan kecerdasannya itu. Rasa kehilangan itu terlukiskan lewat ucapannya yang terlampau romantis itu: cukuplah al-Shaulatiyyah punya satu murid saja asalkan seperti Zainuddin. Zainuddin dinilainya sebagai satu-satunya cinta yang dimiliki al-Shaulatiyyah. Dan masa demi masa tidak menyediakan penggantinya.
Kesedihan dan rasa kehilangan itu diceritakannya kepada murid-muridnya. Mudir selalu, hampir selalu merenung setiap kali mengingat Zainuddin. Salah seorang murid al-Shaulatiyyah yang merekam tangis kehilangan itu adalah Syaikh Damanhuri seperti yang dituturkan muridnya. Dalam cerita beliau, seperti dituturkan salah satu murid al-Shaulatiyyah Syaikh Sahri Ramadlan (kastsarallah mistlah), bahwa betapa al-Shaulatiyyah kehilangan yang teramat sangat. Betapa Zainuddin adalah nama besar ulama al-Shaulatiyyah Makkah bukan semata ulama Indonesia.
Syaikh Damanhuri tidak pernah bersua dengan Maulana al-Syaikh Zainuddin namun nama Zainuddin telah menjadi buah hatinya karena Zainuddin telah menjadi buah bibir Mudir yakni Syaikh Salim Rahmatullah, bahkan keluarga al-Shaulatiyyah. Beliau hampir di tiap pengajian selalu menyempatkan menyebut Maulana al-Syaikh Zainuddin. Aneh. Padahal tidak pernah bersua. Aneh. Bagaimana Allah menanamkan keyakinan pada diri sang Syaikh itu tentang keagungan Zainuddin, murid dari gurunya itu. Bagaimana alumni madrasah al-Falah itu begitu mencintai Zainuddin sebagaimana kecintaan guru-gurunya. Rasa cinta Syaikh Salim Rahmatullah kepada Maulana juga merasuk dalam dirinya.
Salah satu cerita kehilangan yang diceritakannya adalah bahwa dalam sekian kali cerita kehilangan yang tiada tara itu, Syaikh Salim pernah berkata dalam suasana kenang duka kehilangan:
zahaba al-ilmu ( ﺫﻫﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ), ilmu telah pergi.
Syaikh Salim putra pendiri al-Shaulatiyyah itu menyatakan bahwa keluarga al-Shaulatiyyah telah kehilangan ahli ilmu, al-Shaulatiyyah telah kehilangan kebanggaan. Beliau menyatakan bahwa menara ilmu al-Shaulatiyyah telah redup sinarnya. Sosok Zainuddin tidak dilihatnya sebagai murid semata tetapi Zainuddin adalah referesentasi ahli ilmu dan kepulangannya ke Indonesia adalah kehilangan bagi al-Shaulatiyyah. Zainuddin tidak diyakininya hanya ahli ilmu sebagai pribadi tetapi Syaikh Salim putra Sayikh Rahmatullah itu merasa kekeringan ilmu di al-Shaulatiyyah karena tidak ada lagi yang memacu guru-guru di al-Shaulatiyyah demikian aktif menghadapi siswa terpilih itu. Tidak ada lagi yang bisa menjadi contoh terdekat yang mendorong aktif murid-murid al-Shaulatiyyah setelah Zainuddin pergi.
Zainuddin dinilainya sebagai ahli ilmu sekaligus inspirasi ahli ilmu dalam hal ketaatan, kesabaran, ketekunan, keshalihan, kecerdasan, kejujuran, dan kecintaannya pada madrasahnya. Zainuddin dinilainya sebagai ilmu karena terlalu banyak pelajaran yang diambil oleh keluarga besar al-Shaulatiyyah dari pribadi Zainuddin. Zainuddin menjadi kitab, menjadi catatan, menjadi natsar (prosa), menjadi syair (puisi). Zainuddin menjadi pujian atas keagungan ilmu dan ahlinya. Wujud Zainuddin menurut Syaikh Salim adalah ilmu itu sendiri. Ilmu yang hidup yang pernah dimiliki al-Shaulatiyyah.
Kini kurang lebih 85 tahun setelah Maulana al-Syaikh meninggalkan madrasah itu, namanya masih menggema di tanah Makkah. Syaikh Salim telah tiada dan digantikan putranya Syaikh Mas’ud lalu digantikan oleh Syaikh Majid. Semuanya mengenang Zainuddin. Zainuddin putra Lombok yang dihormati oleh gurunya karena keluhuran budi, keluasan ilmu dan keagungan pribadinya.clip_image003_thumb1
Pantaslah sekembalinya Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki dari Lombok didepan murid-muridnya beliau berikrar bahwa Maulana al-Syaikh Zainuddin adalah manusia yang tiada bandingannya. Zainuddin adalah manusia yang tiada duanya. Beliau berkata:
ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻏﺪﻩ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ
Zainuddin tiada duanya di dunia.
Salam untukmu wahai guruku.
Kepergianmu adalah duka ulama haramain, duka kehilangan dunia Islam, duka kehilangan murid Nahdlatul Wathan.

Cuplikan dari buku TRILOGI CINTA MAULANA (buku ketiga)

catatan murid Maulana

dari Majlis al-Aufiya’ wal-Uqala’

Penulis

Muhammad Thohri Khairi Yasri, Fahrurrozi, Satriawan, Zakaria.

Iklan

KAUM KHAWARIJ

IBNU ABBAS PERNAH MENDEBAT MEREKA
INILAHCOM, Jakarta – Kaum Khawarij adalah sekte pertama yang menyimpang dalam sejarah Islam. Nabi Shallallahualaihi Wasallam bahkan berwasiat khusus mengenai kaum khawarij, beliau bersabda

“Mereka keluar saat terjadi perpecahan di antara umatku. Salah seorang diantara kalian (sahabat Nabi) akan menganggap remeh shalatnya dibanding shalat mereka. Kalian menganggap remeh bacaan Al Quran kalian dibanding bacaan mereka. Mereka itu keluar dari agama ini sebagaimana keluarnya panah keluar dari busurnya. Dimanapun kalian menemui mereka, bunuhlah mereka. Karena membunuh mereka itu berpahalanya bagi yang membunuhnya” (HR. Bukhari 3611)
khawarij
Diantara aqidah kaum khawarij adalah menganggap kafirnya kaum muslimin pelaku dosa besar, dan meyakini bahwa mereka kekal di neraka. Demikian ciri khas kaum khawarij, yaitu terlalu mudah memvonis kafir kepada seorang Muslim. Bahkan di zaman Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah dan juga mengkafirkan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka.

Bahkan sebelumnya, mereka telah membangun pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan radhiallahuanhu yang menyebabkan terbunuhnya Utsman. Ini pun merupakan salah satu sifat mereka, yaitu gemar mencari-cari kesalahan penguasa. Mereka juga berpendapat wajibnya menggulingkan penguasa yang mereka anggap salah dan zhalim. Sebagaimana ketika mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, dengan alasan bahwa Ali telah berhukum dengan selain hukum Allah yaitu berhukum kepada manusia.

Mereka berdalil dengan ayat,

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44).

Namun Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, seorang ulama yang faqih di kalangan para sahabat Nabi, merasa perlu untuk berbicara dengan mereka dalam rangka mendebat mereka dan mematahkan argumen mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar. Berikut ini dialog antara Abdullah bin Abbas dengan kaum Khawarij.

Diriwayatkan oleh Imam An Nasa-i dalam kitab Al Khasha-ish Amirul Muminin Ali bin Abi Thalib (190), dengan sanad yang hasan,

Amr bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata, Abdurrahman bin Mahdi menuturkan kepadaku, Ikrimah bin Ammar berkata, Abu Zamil menuturkan kepadaku, ia berkata, Abdullah bin Abbas berkata:

Ketika kaum Haruriyyah (Khawarij) memberontak, mereka berkumpul menyendiri di suatu daerah. Ketika itu mereka ada sekitar 6000 orang. Maka aku pun berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “wahai Amirul Muminin, tundalah shalat zhuhur hingga matahari tidak terlalu panas, mungkin aku bisa berbicara dengan mereka kaum Khawarij”. Ali berkata: “aku mengkhawatirkan keselamatanmu”. aku berkata: “tidak perlu khawatir”

Aku lalu memakai pakaian yang bagus dan berdandan. Aku sampai di daerah mereka pada waktu tengah hari, ketika itu kebanyakan mereka sedang makan. Mereka berkata: “marhaban bik (selamat datang) wahai Ibnu Abbas, apa yang membuatmu datang ke sini?”. Aku berkata: “Aku datang mewakili para sahabat Nabi dari kaum Muhajirin dan Anshar dan mewakili anak dari paman Nabi (Ali bin Abi Thalib). Merekalah yang membersamai Nabi, Al Quran di turunkan di tengah-tengah mereka, dan mereka lah yang paling memahami makna Al Quran. Dan tidak ada salah seorang pun dari kalian yang termasuk sahabat Nabi. Akan aku sampaikan perkataan mereka yang lebih benar dari perkataan kalian”.

Lalu sebagian dari mereka mencoba menahanku untuk bicara.

57 40 67

Aku berkata lagi: “sampaikan kepada saya apa alasan kalian memerangi para sahabat Rasulullah dan anak dari pamannya (Ali bin Abi Thalib)?”. Mereka menjawab: “ada 3 hal”. Aku berkata: “apa saja?”. Mereka menjawab: “Pertama: ia telah menjadi hakim dalam urusan Allah, padahal Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah” (QS. Al Anam: 57, Yusuf: 40). Betapa beraninya seseorang menetapkan hukum!”. Aku berkata: “ini yang pertama, lalu?”. Mereka menjawab: “Kedua: ia memimpin perang (melawan pihak Aisyah) namun tidak menawan tawanan dan tidak mengambil ghanimah. Padahal jika memang ia memerangi orang kafir maka halal tawanannya. Namun jika yang diperangi adalah orang mukmin maka tidak halal tawanannya dan tidak boleh diperangi”. Aku berkata: “ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?”. (Ketiga) Mereka menyampaikan perkataan yang intinya kaum Khawarij berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib telah menghapus gelar Amirul Muminin dari dirinya, dengan demikian ia adalah Amirul Kafirin. Aku lalu berkata: “apakah masih ada lagi alasan kalian?”. Mereka menjawab: “itu sudah cukup”.

95

Aku berkata: “bagaimana menurut kalian jika aku membacakan kitabullah dan sunnah Nabi-Nya yang akan membantah pendapat kalian? apakah kalian akan rujuk (taubat)?”. Mereka berkata: “ya”. Aku katakan: “adapun perkataan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib telah menetapkan hukum dalam perkara Allah, aku kan membacakan Kitabullah kepada kalian bahwa Allah telah menyerahkan hukum kepada manusia dalam seperdelapan seperempat dirham. Allah tabaraka wa taala memerintahkan untuk berhukum kepada manusia dalam hal ini. tidakkah kalian membaca firman Allah tabaraka wa taala (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu (QS. Al Maidah: 95)”

35

Ini diantara hukum Allah yang Allah serahkan putusannya kepada manusia. Andaikan Allah mau, tentu Allah bisa memutuskan saja hukumnya. Namun Allah membolehkan berhukum kepada manusia. Demi Allah aku bertanya kepada kalian, apakah putusan hukum seseorang dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai atau dalam menjaga darah kaum muslimin atau dalam masalah daging kelinci itu afdhal? Mereka menjawab: “iya, tentu itu afdhal”. Dalam masalah pertikaian suami istri, “Dan bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (penengah yang memberi putusan) dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga wanita” (QS. An Nisaa: 35). Demi Allah telah bacakan kepada kalian diperintahkannya berhukum kepada manusia dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai dan dalam menjaga darah mereka, dan itu lebih afdhal dari pada hukum yang diputuskan beberapa wanita. Apakah alasanmu sudah terjawab dengan ini? Mereka menjawab: “Ya”.

6

Aku berkata: “adapun perkataan kalian bahwa Ali berperang (melawan pihak Aisyah) namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, saya bertanya, apakah kalian akan menawan ibu kalian Aisyah? Apakah ia halal bagi kalian sebagaimana tawanan lain halal bagi kalian? Jika kalian katakan bahwa ia halal bagi kalian sebagaimana halalnya tawanan yang lain, maka kalian telah kufur. Atau jika kalian katakan ia bukan ibumu, kalian kafir. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin) (QS. Al Ahdzab: 6). Maka kalian berada di antara dua kesesatan, coba kalian pilih salah satu? Apakah ini sudah menjawab alasan kalian?”. Mereka menjawab: “ya”.

Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus gelar Amirul Muminin darinya, maka aku akan sampaikan hal yang kalian ridhai. Bukankah Nabi shalallahualaihi wasallam pada Hudaibiyah membuat perjanjian dengan kaum Musyrikin. Rasulullah berkata kepada Ali, “tulislah wahai Ali, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah”. Namun kaum musyrikin berkata, “tidak! andai kami percaya bahwa engkau Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu”. Maka Rasulullah shalallahualaihi wasallam bersabda, “Kalau begitu hilangkan tulisan “Rasulullah” wahai Ali. Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa aku adalah Rasul-Mu. Hapus saja, wahai Ali. Dan tulislah, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah”. Padahal Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam tentu lebih utama dari pada Ali. Namun beliau sendiri pernah menghapus gelar “Rasulullah”. Namun penghapus gelar tersebut ketika itu tidak menghapus kenabian beliau. Apakah alasan kalian sudah terjawab dengan ini?”. Mereka berkata: “ya”.

Ibnu Abbas berkata, “maka bertaubatlah sekitar dua ribu orang di antara mereka, dan sisanya tetap memberontak. Mereka akhirnya terbunuh dalam kesesatan mereka. Kaum Muhajirin dan Anshar lah yang membunuh mereka”. [ ]

Sumber : muslimorid

PENDAPTARAN KEKOREA SECARA ONLINE

gambar_bendera_korea_selatan G TO G INDONESIA

PELAKSANAAN PENDAFTARAN UJIAN EPS-TOPIK SECARA SISTEM ONLINE UNTUK BEKERJA DI KOREA SELATAN

27 Februari 2015 22:14 WIB

PENGUMUMAN PELAKSANAAN PENDAFTARAN UJIAN EPS-TOPIK
SECARA SISTEM ONLINE UNTUK BEKERJA DI KOREA SELATAN
No: PENG. 103/PEN-PPP/II/2015

Dalam rangka kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan, dan berdasarkan MOU tentang Penempatan Tenaga Kerja antara Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dan Kementerian Tenaga Kerja Republik Korea (MOEL), semua pencari kerja yang berminat untuk bekerja di Korea di bawah Mekanisme Employment Permit System (EPS) harus mengikuti EPS-TOPIK yang dilakukan oleh Human Resources Development Service of Korea (HRD Korea) dengan persetujuan dari MOEL dan hanya peserta yang telah mengikuti ujian EPS-TOPIK dan dinyatakan lulus ujian yang berhak melamar kerja ke Korea.

Pada tahun 2015 telah dibuka kesempatan untuk bekerja di Korea Selatan melalui sistem test/ujian EPS-TOPIK (Employment Permit System – Test of Proficiency in Korea) dengan materi test atau ujian EPS-TOPIK adalah Bahasa Korea dan Budaya Korea.

Adapun bidang pekerjaan yang ditawarkan adalah sektor Manufaktur, meliputi:
1. Pembuatan Makanan dan Minuman.
2. Pengolahan Tembakau.
3. Pengolahan Tekstil.
4. Pengolahan Produk Bulu Hewan.
5. Pewarnaan Pakaian dan Pembuatan Produk Kulit.
6. Pengolahan Pulp dan Kertas.
7. Pengolahan Bahan Bakar Batubara,Minyak dan Nuklir.
8. Pembuatan Bahan Kimia.
9. Pengolahan karet dan Produk Plastik.
10. Pengolahan Bahan-bahan bukan Logam.
11. Pengolahan Bahan Mentah Industri Besi.
12. Pengolahan Bahan Hasil Industri Besi.
13. Pembuatan Mesin Pendukung Industri.
14. Pembuatan Komputer dan Peralatan Kantor.
15. Pembuatan Peralatan Listrik.
16. Pembuatan Peralatan Eletronik,Video dan Audio serta Alat Komunikasi.
17. Pembuatan Peralatan Medis,Presisi dan alat Optikal ( Jam ).
18. Industri Mobil dan Suku Cadang.
19. Industri alat Transportasi lain, dan Suku Cadang.
20. Industri Furniture dan Produk-produk Furniture.
21. Industri Pemerosesan Bahan Daur Ulang dan Produk-produk Daur Ulang.
Adapun prosedur penempatan TKI Korea Program G to G adalah sebagai berikut:
• Pendaftaran online ujian EPS-TOPIK
• Verifikasi data lamaran di BP3TKI/LP3TKI/UPTP3TKI
• Pengambilan kartu ujian di BP3TKI/LP3TKI/UPTP3TKI
• Pelaksanaan ujian PBT EPS-TOPIK sesuai dengan lokasi yang ditentukan
• Bagi yang lulus dapat mengambil sertifikat kelulusan dan formulir lamaran di BP3TKI/ UPTP3TKI/ LP3TKI
• Entry data dan sending ke HRD Korea oleh BNP2TKI (Setelah Anda lulus ujian EPS-TOPIK kemudian nama anda akan dimasukkan dalam roster (daftar) pencari kerja, dan proses selanjutnya adalah menunggu user/perusahaan untuk memilih anda bekerja.
• Bagi yang terpilih oleh User akan menerima SLC (Standard Labor Contract) dari HRD Korea
• Bagi yang telah menerima SLC, akan diumumkan untuk mengikuti Preliminary Training oleh BNP2TKI
• Penerbitan Rekomendasi Visa (CCVI), pengurusan VISA ke Kedutaan Korea dan Panggilan Keberangkatan oleh Imigrasi, BNP2TKI dan Kedutaan Korea
• Pemberangkatan dan Kelengkapan Dokumen ke Korea
• Tiba di Korea
Sesuai standar Pemerintah Korea Selatan, perusahaan di Korea Selatan akan memberikan fasilitas sbb:
1. Gaji standar sebesar sekitar 1 juta Won atau sekitar Rp. 12 juta (belum termasuk uang lembur);
2. Akomodasi pada umumnya ditanggung perusahaan.

Bagi masyarakat yang berminat untuk mengikuti pendaftaran dapat mendaftar secara online melalui Website BNP2TKI. Untuk memudahkan masyarakat yang berminat mendaftar bekerja di Korea Selatan, maka pada tahun 2015 ini mulai dilaksanakan pendaftaran dengan sistem online yang mulai dibuka pada tanggal 1 Maret dan ditutup pada tanggal 30 Maret 2015. Pendaftaran sistem online dapat dilakukan dimana saja misalnya di rumah (bagi yang mempunyai komputer dan internet), melalui smartphones, dan juga dapat dilakukan di warnet.

A. Persyaratan Pendaftaran :
• Usia 18 – 39 tahun
• Pendidikan minimal SLTP atau sederajat
• Tidak sedang dicekal bepergian ke Luar Negeri
• Tidak pernah dihukum atau dipenjara
• Tidak pernah dideportasi dari Negara Korea
B. Metode Pendaftaran ujian EPS-TOPIK Melalui Sistem online:
Mendaftar sendiri/mandiri melalui fasilitas internet (website BNP2TKI) dengan alamat: http://g2g.bnp2tki.go.id

C. Tahapan dalam Pelaksanaan Pendaftaran Ujian EPS-TOPIK Melalui Sistem Online

1. Pendaftaran
Cara Pendaftaran :
• Mengakses website : http://g2g.bnp2tki.go.id
• Bila alamat website benar maka akan tampil informasi pengumuman Pendaftaran EPS-TOPIK. Anda diwajibkan membaca isi pengumuman tersebut.
• Pada tampilan informasi pengumuman pendaftaran EPS-TOPIK terdapat tombol “Register Now” di pojok kanan atas untuk melakukan pendaftaran.
• Selanjutnya klik tombol “register Now” maka akan tampil form isian pendaftaran. Isi data anda pada kolom form pendaftaran tersebut dengan cara mengetik identitas diri (nama, tanggal lahir, alamat, dll) yang harus sesuai dengan KTP yang digunakan dan mengunggah dokumen KTP yang digunakan serta ijazah terakhir (minimal lulusan SLTP atau sederajat) .
• Pada bagian bawah form isian ini terdapat tombol “Register” untuk melakukan pendaftaran dan menyimpan data dan tombol “Reset Form” untuk mengosongkan form isian.
• Setelah mengisi semua kolom yang tersedia pada form isian pendaftaran selanjutnya mengunggah/uploaddokumen KTP dan ijazah terakhir (minimal SLTP atau sederajat) dilanjutkan dengan melakukan klik tombol “Register”. Pastikan semua kolom telah terisi dengan benar.
• Ketika tombol “Register” di klik maka akan tampil informasi “Apakah anda yakin akan menyimpan data?”. Klik tombol “Ok” untuk menyimpan data dan anda telah terdaftar sebagai pendaftar ujian EPS-TOPIK.
• Setelah tombol register diklik maka akan tampil informasi:
• Keterangan berhasil menyimpan
• Link untuk mencetak form validasi
• Link untuk download aplikasi “Acrobat Reader”
• Selanjutnya klik Link untuk mencetak form validasi untuk mencetak hasil pendaftaran yang telah anda lakukan.
• Pada hasil cetak pendaftaran memuat informasi yang telah anda isi beserta nomor registrasi, tempat dan tanggal verifikasi di BP3TKI/UPTP3TKI/LP3TKI serta wilayah lokasi ujian.
• Data hasil cetak pendaftaran dapat disimpan dalam bentuk Softcopy (Flashdisk, Hard Disk Eksternal, dll).
• Hasil cetak/ Printout pendaftaran tersebut merupakan bukti Pendaftaran Online yang harus dibawa ketika Anda melakukan Verifikasi data di BP3TKI/UPTP3TKI/LP3TKI seperti yang tertera pada hasil cetak pendaftaran.

2. Verifikasi Data (tidak dapat diwakilkan)
Verifikasi data dilakukan di BP3TKI/UPTP3TKI/LP3TKI sesuai domisili dan tanggal verifikasi data serta wilayah lokasi ujian tertera pada hasil cetak bukti pendaftaran online dengan membawa dokumen :
• Asli Bukti cetak (print out) pendaftaran online
• Asli KTP yang dipergunakan ketika mendaftar online
• Asli Ijasah pendidikan terakhir (minimal SLTP atau sederajat)
• Pengambilan sidik jari dan Foto
• Alamat e-mail dan nomor telepon pribadi

Dokumen tersebut di atas wajib dibawa untuk ditunjukkan pada saat verifikasi berikut hasil scan (softcopy) dengan format *.JPG yang disimpan dalam flash disk.

3. Pengambilan Kartu Ujian EPS-TOPIK (tidak dapat diwakilkan)
Waktu pengambilan kartu ujian EPS-TOPIK di BP3TKI/UPTP3TKI/LP3TKI akan diumumkan kemudian melalui website http://www.bnp2tki.go.id dan http://g2g.bnp2tki.go.id dengan membawa dokumen:
• Bukti cetak (print out) pendaftaran online
• Asli KTP yang dipergunakan ketika mendaftar
• Foto 3×4 berlatar belakang putih sebanyak 2 (dua) lembar, yang dibuat maksimal dalam 3 (tiga) bulan terakhir
• Asli bukti pembayaran biaya ujian EPS-TOPIK melalui transfer ke Rekening Bank BRI yang di tetapkan (transfer melalui ATM/E-banking tidak diperbolehkan) untuk ditunjukkan dan 1 (satu) lembar fotokopi bukti pembayaran uang ujian diserahkan ke panitia)

D. Jadwal Pelaksanaan Pendaftaran Ujian EPS-TOPIK PBT 2015
1. Pendaftaran online dimulai pada tanggal 1 s/d 30 Maret 2015
2. Verifikasi data dimulai pada tanggal 9 Maret s/d 15 April 2015 di BP3TKI/UPTP3TKI/LP3TKI sesuai dengan jadwal dan tempat yang tertera pada bukti pendaftaran online.

E. Biaya Pendaftaran Ujian EPS-TOPIK PBT tahun 2015 sesuai dengan ketentuan HRD Korea adalah sebesar USD 24 (menunggu pengumuman lebih lanjut).

F. Pengambilan Kartu Ujian dan Pelaksanaan Ujian EPS-TOPIK (menunggu pengumuman lebih lanjut).

G. Pembagian sertifikat lulus ujian EPS-TOPIK (menunggu pengumuman lebih lanjut).

Bagi yang memerlukan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi melalui alamat email: g2gkorea@bnp2tki.go.id

Demikian kami sampaikan dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih

Jakarta, 27 Februari 2015
Direktur
Pelayanan Penempatan Pemerintah

Ttd

R. Hariyadi Agah W, S.IP
NIP. 19590607 198803 1 002

AIR MATA DARI MESIR

Mesir Antara Standar Ganda Barat dan Suara Islam

Minggu, 18 Agustus 2013

oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

   KRISIS Mesir makin memuncak. Di Harian Al-Hayat (Kamis, 15/08/13) Zuhair Qashibati menulis artikel berjudul Ḥarīq Mishr (“Kebakaran Mesir”) yang isinya ternyata membela tindakan aparat Mesir. Sementara pihak Al Ikhwan al Muslimun – melalu juru bicaranya – menyatakan bahwa Al-Sisi (jenderal yang menginisiasi penggulingan Mursy) akan membawa Mesir seperti Suriah.

   Pernyataan ini sepertinya mendekati kebenaran, setelah terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan otoritas – menurut bahasa penguasa – “transisi” dengan alasan untuk membubarkan pada demonstran. Rabi’ah al-Adawiyah dan lapangan al-Nahdhah akhirnya bersimbah darah pada Rabu (14/08/13).

   Pasca “Rabu Berdarah” itu, berbagai opini pun bermunculan. Baik yang pro-Mursy maupun yang kontra. Yang diam “seribu bahasa” hanya para kampium demokrasi dari Barat: negeri Pam Sam dan kawan-kawannya. Yang bisa dilakukan Amerika (termasuk Presiden RI) hanya melayangkan ucapan “prihatin” – sepertinya prihatin politis – dan membatalkan latihan militer AS-Mesir plus mempertimbangkan bantuan ke negeri Seribu Menara itu. Lainnya tidak ada.

   Negara-negara Eropa dan Barat lainnya sepertinya tengah menjadi “pemirsa yang budiman”. Paling keras mereka akan mengajukan penelitian dan inverstigasi. Itu pun pasti merugikan Islam. Ternyata demokrasi hanya berlaku bagi negara-negara kecil – paling kuat untuk negara yang bisa “dihisap” minyak dan sumber daya alamnya.

Standar Ganda

   Itu lah standar ganda Barat-Eropa bagi negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Atas nama demokrasi, di Iraq Saddam Husein harus digulingkan. Atas nama demokrasi Mu’ammar Qadhafy di Libya mesti didongkel dari kursinya. Atas nama demokrasi kaum Sunni dibiarkan dibantai di Suriah. Atas nama demokrasi Israel dibiarkan meraja-lela memproduksi senjata nuklir. Atas nama demokrasi pula mereka takut menyebut aksi militer di Mesir terhadap Mohammad Mursy sebagai aksi ‘kudeta’ kekuasaan.

   Di sini, pernyataan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan ketika melakukan konferensi pers di bandara Ankara sebelum melakukan perjalanan ke Turkmenistan. Katanya, “Demokrasi di dunia akan menjadi meragukan jika Barat tidak mengambil langkah serius, dan mereka yang diam tidak peduli terhadap tragedi di Mesir akan dianggap sebagai bagian dari para pembunuh.”

Barat memang para pembunuh. Bahkan, pembunuh berdarah dingin. Dan yang tampak saat ini di Mesir Barat benar-benar tengah menjelma menjadi “pembunuh demokrasi” yang mereka kampanyekan kemana-mana. Dan Barat akan tetap bersikap seperti itu. Tetap “memancing” dai air keruh. Dan, selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan.

   Tak berbeda dari sikap Barat, DK PBB pun terkesan membiarkan apa yang terjadi hari ini. Namun segera harus dimaklumi karena suara Islam tidak ada di PBB, apalagi di kursi Dewan Keamanan di sana. Semuanya pasti pro Militer Mesir dengan pertimbangan sekian nomor urut kepentingan. Kepentingan itu tidak lepas dari lobi-lobi politis plus ekonomis.

Kemana Suara Islam?

   Melihat kondisi yang memilukan di Mesir kita jadi bertanya: Kemanakah suara Islam? Mana win-win solution dari OKI. Mana suara dari Liga Arab? Apakah “Mesir Membara” yang telah menelan lebih 600 orang (IM menyebut 2.600 orang), apa masih kurang? Atau memang semuanya tak tahu harus berbuat apa.

   Ratusan jasad para demonstran yang dibakar pemerintah Mesir – untuk menghilangkan jejek kekejaman dan kekejian mereka – kurang cukup untuk mengetuk pintu hati kecil? Padahal berbagai protes dari berbagai belahan dunia atas aksi kekerasan dan pembantaian di Mesir sudah muncul dimana-mana. Namun itu adalah kecil. Karena mereka bukan organisasi. Mereka hanya individu-individu yang berkumpul seadanya: untuk menyatakan bahwa mereka masih punya akal dan rasa.

   Seharusnya itu sudah cukup untuk memantik rasa ukhuwwah islamiyyah berbagai organisasi Islam yang ada di dunia. Dan sikap itu pula harus diikuti oleh berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, khususnya Indonesia. Tentu suara Islam saat ini tengah diuji. Jika tidak ada tindakan nyata dan tegas, maka sudah dapat dipastikan bahwa sampai kapanpun ummat ini akan tetap seperti buih: besar secara kuantitas tapi kecil secara kualitas. Kondisi ini lah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw. Solusinya memang harus kembali berpikir ‘ukhrawi’, tidak melulu duniawi. Supaya kita punya nyali. Wallāhu waliyyut-tawfīq.*

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Sumut.

TGB pemimpin yang penomenal

TGBSosok yang dibahas kali ini bukan sosok yang asing di telinga dan mata kita, bahkan sudah sangat familiar. Hampir 5 tahun lebih berita tentang dirinya, aktifitas, dan kinerjanya seolah menjadi menu wajib surat kabar yang terbit di seantero NTB. Termasuk juga Lombok Post sebagai koran terbesar se-NTB.
Muhammad Zainul Majdi adalah tokoh fenomenal dunia kepesantrenan hari ini. Dia yang akrab disebut TGB, sebelum menjabat Gubernur, selama kurang lebih 10 tahun bersafari dakwah mengadakan pengajian di kota dan di kampung se-NTB. Kaset ceramahnya diputar di rumah-rumah dan di masjid-masjid mengimbangi ceramah KH. Zainuddin MZ. Akhirnya tatkala mencalonkan diri sebagai Gubernur NTB tahun 2008 lau, hal itu seolah membuka lembaran baru perpolitikan NTB.
Bagaimana tidak, seperti ditulis oleh Dr. Rasmianto dalam kata pengantar sebuah buku yang mengulas kiprah tokoh kita ini, bahwa dia hadir di NTB yang penuh warna dan penuh kejutan. Satu sisi dia merefresentasikan dunia ketuanguruan dan di sisi lain merefresentasikan birokrat santri yang masih muda belia. “Sebagai sosok tuan guru, muda lagi, dia hadir pada saat dan waktu yang tepat,” tulisnya.
Penulis merekam beberapa testimoni dan opini dari beragam kalangan tentang Muhammad Zainul Majdi sebagai seorang pribadi, intelektual, ulama, dan Gubernur NTB.
TGB sebagai Gubernur NTB
Suatu hari penulis berdialog ringan dengan salah satu ajudan Gubernur NTB saat bersilaturrahim ke Ummi Siti Rauhun dan TGB di gedeng Pancor. Penulis bertanya padanya tentang kesan menjadi ajudan TGB. Ia menjawab bahwa dirinya banyak mendapat ilmu dari TGB. “Gubernur sekarang inilah yang paling dekat dengan bawahan atau pegawainya. Beliau sering keliling kantor, tanya ini itu tentang pekerjaan. Ia selalu senyum tapi tegas. ”Menurutnya itulah kesan rekan-rekan kerjanya yang sudah lama di Gubernuran. Ketika penulis desak apa kekurangannya, dia menjawab, “Kurangnya, tidak banyak orang seperti beliau, menurut saya beliau rendah hati tapi wibawanya nggak dibuat-buat.”
Selepas cucu pendiri NW, TGKH M. Zainuddin Abdul Majid ini terpilih menjadi Gubernur periode 2008-2013, antusiasme masyarakat mengundang TGB dalam berbagai kegiatan meningkat tajam. Tidak saja dalam kegiatan agama, seperti pengajian, peletakan batu pertama masjid, madrasah, pesantren, khutbah Jum’at, namun menjalar ke semua kegiatan lain seperti seminar berbagai disiplin ilmu, pelantikan pengurus ormas, diskusi publik, studium general, hingga sunatan anak. Menurut orang dalam gubernuran, antusiasme luar biasa ini tidak terjadi pada Gubernur-gubernur NTB sebelum TGB. “Jadi wajar bila TGB tidak bisa hadiri semua, badan beliau cuma satu, seandainya bisa menghadiri semua, maka akan dipenuhinya. Jadi terpaksa ia berbagi peran dengan wakil atau rekan beliau.”Demikian penuturannya. Biasanya selepas selesai acara di kampus atau di masyarakat, TGB selalu dikerubuti jamaah atau mahasiswa sekedar bersalaman, minta kepala anaknya dielus, bahkan minta foto-foto.
Kehadiran beberapa ulama Timteng di Pendopo Gubernur NTB adalah peristiwa langka sebelumnya, bahkan mungkin saja belum pernah. Namun, saat NTB dipimpin TGB, Alhamdulillah mereka menginjakkan kaki di sana dan diterima sebagai tamu kehormatan daerah. Menghormati ulama dan memuliakannya adalah akhlak Islami yang fundamental sekali, sebab mereka adalah penyambung lidah para Nabi. Tercatat Prof. Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi asal Mesir, Al-Habib Zain bin Sumaith yang tinggal di Jeddah, Al-Habib Salim As-Syatiry asli Yaman, dan Dr. Muhammad bin Ismail Zain Al-Makki domisili Makkah, adalah para tamu Gubernur. Panitia tidak lupa mengundang para tuan guru dan alim ulama menemani TGB mendengar siraman tausyiah dari para ulama itu. Para Tuan Guru berseloroh tidak ada ceritanya dari dulu Tuan guru ngaji ke pendopo, kecuali di masa TGB menjabat. Ada pula yang bergumam, “Pendopo seolah rumah sendiri”.
Dalam sebuah pengajian, TGH. Habib Tantawi, asal Praya menceritakan bahwa saat rombongan Tuan guru dan pimpinan ponpes se-NTB yang dipimpin TGH. Safwan Hakim mengadakan kunjungan ke beberapa ponpes di Jawa, salah satunya adalah Pondok Modern Gontor, Kiyai Gontor, Dr. KH. Syukri Zarkasi memberi motivasi kepada para santrinya. Di dampingi para Tuan guru asal NTB ia menyatakan bahwa para santri Gontor harus termotivasi agar bisa mengikuti jejak Gubernur NTB. Gubernur termuda Indonesia yang lahir dari rahim pesantren. Ini menandakan euporia kebangkitan pesantren dengan terpilihnya TGB telah menjalar ke seluruh Indonesia.
Ini terbukti ketika adik penulis yang pernah tinggal di kota Jayapura selama 11 bulan. Dari beberapa masjid yang dia kunjungi dan berdialog dengan para pengurus di sana, banyak kesan seragam yang membuat ia takjub. Ketika ia ditanya, “Ustadz asal mana?” Lantas dia menjawab berasal dari Lombok. Mereka rata-rata menjawab, “Lombok itu NTB, yang gubernurnya termuda dan Kiyai itu? Kami bangga, meskipun bukan orang NTB, ada pemuda muslim sekaligus ulama menjadi pimpinan daerah. Seandainya di semua daerah seperti itu,” ungkapnya.
TGB Sebagai Ulama dan Intelektual
Testimoni ini riwayatnya shahih, penulis dengar langsung dari dua orang rekan TGB, dalam kesempatan berbeda, pertama Dr. Muhlis Hanafi, dosen UIN Jakarta dan anggota badan pentashih Al-Qur’an pusat dan Dr. M. Said Ghazali, dosen IAIH Pancor dan IAIN Mataram. Keduanya sahabat karib TGB di Mesir. Saat TGB mengambil Magister di Al-Azhar jurusan Tafsir Al-Qur’an, tahun pertama (fashlul awwal) jumlah mahasiswa yang diterima 40 orang. Setiap kenaikan tingkat diadakan semester, hanya yang nilainya bagus saja yang lulus. Ternyata pada tahun kedua atau fashlu atsani tidak ada yang lulus, kecuali hanya seorang, yaitu TGB. Akhirnya hingga Menggondol gelar S2, beliau hanya belajar 4 mata dengan para dosennya, karena hanya TGB seorang yang tersisa di kelas itu.
Gelar doktor ilmu tafsir pun berhasil diraihnya. Di sela-sela kesibukannya sebagai Gubernur, ia berhasil menyelesaikan disertasinya tentang studi filologi atas Tafsir Ibnu Kamal Basya dari surat An-Naml hingga surat As-Shaffat. Disertasi itu meliputi editing naskah manuskrip yang ditulis abad 10 H, memberi kritik, komentar, dan analisis metode penafsiran. Oleh pengujinya yang terdiri dari pakar Tafsir kelas dunia, ia dianugerahi Martabah Syaraf Al-Ula atau Summa Cumlaude dengan merekomendasikan risetnya untuk dicetak dan disebarluaskan ke dunia Islam atas biaya Al-Azhar.
Keunggulan intelektual TGB memang sudah tercium sejak masih belajar di Pancor. Penulis sering menjumpai Zainul Majdi muda sering membeli buku baru di toko buku milik penulis, Toko Hikmah Pancor. Penulis sering mendapatinnya sedang menyetor hafalan di rumah Syaikh Jum’ah Al-Misry, seorang masyaikh Ma’had DQH NW Pancor asal Mesir di awal tahun 90-an. Bahkan, menurut cerita para guru senior di Muallimin, almamater penulis, terkadang TGB ketiduran di kelas saat guru sedang menerangkan. Namun, saat dia ditanya materi yang disampaikan saat itu, dia selalu bisa menjawab dengan jawaban yang memuaskan. Zainul Majdi adalah primadona dan buah bibir secara turun menurun di madrasah Muallimin Pancor hingga kini.
Dalam kunjungannya ke Yayasan Pendidikan Hamzanwadi NW Pancor, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. M. Nuh menyebut bahwa TGB adalah aset NTB. Bahkan dirinya berharap TGB ke depannya bisa memimpin Indonesia, bahkan berpotensi memimpin dunia. Ungkapannya itu sontak disambut gema takbir ribuan santri yang hadir malam itu. Kesan yang sama disampaikan oleh Rektor UIN Malang, Prof. Imam Suprayogo saat TGB menyampaikan studium general di kampus yang dipimpinnya. Selepas mendengar presentasi TGB tentang Pendidikan Islam, ia terkagum-kagum. Menurutnya ia tidak sefaham dengan opini sebegaian orang bahwa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan masa depan. Buktinya, Indonesia masih punya stok calon presiden masa depan, satu di antaranya adalah Muhammad Zainul Majdi. Subhanallah.
Penulis H. Ahmad Zainul Hadi, MA
(Alumnus Pascasarjana UIN jakarta, kini dosen IAIH Pancor)

TGB (DR.TGH, ZAENUL MAJDI MA.) Tentang Fiqih Islam

312_Bn75x75[1]

TGB dan Fiqih Prioritas

  Sosok Muhammad Zainul Majdi memang menarik untuk dikaji meskipun dari beragam perspektif. Mulai dari perspektif agama karena sosoknya sebagai Tuan Guru, atau dari perspektif politik sebagai imbas dari jabatan Gubernur NTB yang diembannya, atau perspektif sosial selaku bagian dari anggota masyarakat. Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dan didiskripsikan dari pemikiran dan aksi beliau di lapangan.

  Kajian ini mencoba sedikit menganalisa pandangan seorang Muhammad Zainul Majdi terhadap fiqih prioritas atau fiqh al-aulawiyat. Kemudian bagaimana seorang Tuan Guru Bajang, panggilan akrabnya mengejawantahkan konsep ini ke dalam alam realitas, terutama kapasitasnya sebagai seorang Gubernur NTB.

   Sebagai seorang ulama sekaligus umara, TGB tampaknya faham betul dengan konsep fikih prioritas. Terlebih lagi sebagai alumnus al-Azhar Mesir, universitas yang concern mengkampanyekan nilai-nilai universalisme Islam ke seluruh penjuru bumi. Mesir sebagai pusat lahirnya pemikir-pemikir Muslim kontemporer yang modern namun orisinil, rupanya sangat mempengaruhi pola pikir TGB sendiri. Hal ini bisa secara gamblang dinilai dari ceramah-ceramah TGB yang memadukan ajaran klasik dengan pemahaman kontemporer. Fiqih prioritas seolah isu baru dalam dunia Islam, padahal dalam Islam sendiri, konsep ini sudah ada sejak lama. Bahkan Nabi SAW- lah yang meletakkan fondasi utama konsep ini. Fiqih prioritas adalah spirit utama seorang Muslim dalam menjalankan kewajiban selaku seorang abdi Allah dan anggota masyarakat. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Meskipun istilah ini dipopulerkan oleh Syaikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi, namun bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab turats seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawa’idhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan.Terlebih lagi dalam kondisi yang dikatakan oleh Syekh Hasan al-Banna bahwa “al-wajibat aktsaru min al-awqat” yaitu tugas-tugas yang ada tidak sebanding dengan waktu yang kita miliki. Di sinilah kita perlu mengkaji apa saja prioritas dari sekian banyak amalan yang sangat mungkin kita kerjakan dan dikondisikan dengan waktu yang rasanya semakin pendek.
  Dalam sebuah momen, TGB menyampaikan bahwa seorang muslim harus berbagi peran dalam kancah kehidupan hari ini. Tidak dibenarkan kalau semua memperdalam agama lalu mengenyampingkan ilmu umum. Imam al-Ghazali menyebut furudhul kifayah yang berarti bahwa hal-hal yang hukumnya fardhu kifayah harus terakomodir seluruhnya. Semua bidang yang berhubungan dengan kemaslahatan umum harus diisi oleh seorang Muslim.

  “Jangan semua ingin jadi Tuan Guru, jadi ustadz, pintar ceramah. Lalu yang jadi dokter siapa, arsitek siapa, ekonom siapa, polisi dan tentara siapa ?” ungkap TGB saat itu. Ini adalah contoh sederhana dari konsep fiqih prioritas. Bahwa kaum Muslimin hari ini harus berbagi peran. Dewasa ini kaum muslimin sudah tertinggal dalam beberapa lini kehidupan modern. Ini akibat kesalahfahaman dalam memahami hakikat prioritas amal. Padahal al-Imam as-Syafi’i dulu pernah mengkritisi langkanya seorang dokter Muslim, karena pada masa itu tenaga dokter yang tersedia adalah hampir semuanya non Muslim. Al-Imam al-Ghazali pun sempat tidak habis pikir karena banyak sarjana Muslim di zamannya doyan berdebat masalah fiqih ikhtilaf yang tiada ujung. Seandainya mereka hidup di zaman kita sekarang, mungkin mereka sudah stres melihat kondisi ummat Islam.

  Al-Qaradhawi dalam mukaddimah bukunya Fi Fiqhi al-Aulawiyyat menulis “Studi yang penulis sajikan dihadapan anda sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia memberikan solusi terhadap tiadanya keseimbangan dari sudut pandang agama dalam memberikan penilaian terhadap perkara-perkara, pemikiran dan perbuatan; mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain; mana perkara yang perlu didahulukan, dan mana pula perkara yang perlu diakhirkan; perkara mana yang harus diletakkan dalam urutan pertama, dan perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah Tuhan dan petunjuk Nabi saw.

  Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan oleh kaum Muslimin telah hilang dari mereka pada zaman kita sekarang ini.”Contoh prioritas yang dimaksud al-Qarahdawi adalah prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini beliau membahas prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’i dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi nilai Islam atas zhahir nash, prioritas ijtihad dari pada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat-pendapat fiqih.Konsep urutan prioritas amal adalah modal utama dalam setiap ceramah yang disampaikan TGB dalam berbagai kesempatan. Bahwa seorang Muslim hari ini tidak hidup di ruang hampa di mana ia hidup di tengah komunitas masyarakat dan wajib mengambil peran sebesar-besarnya. “Salah besar kalau ummat Islam hanya shalih untuk dirinya sendiri, namun tidak bermanfaat bagi sekelilingnya”. Sering sekali beliau menyampaikan bahwa Muslim itu seharusnya mampu berdaya guna sekaligus berdaya saing. Itulah konsekuensi dan hakikat atribut khoiru ummah yang disandang ummat Islam.

  Pemahaman akan fiqih prioritas itu lalu diadopsi dalam kebijakan publiknya. Dalam menjalani amanah selaku pemimpin NTB, TGB bersama segenap team worknya membuat program yang terencana dan tersusun rapi. TGB dan Badrul Munir bersama mengikhtiarkan pembangunan NTB yang Beriman dan Berdaya Saing. Pada tahap pertama (tahun 2008-2009) sebagai tahap orientasi dan konsolidasi. Tahap kedua (2010-2011) sebagai tahapan percepatan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Tahap ketiga (tahun 2012-2013) adalah perwujudan NTB Bersaing. Tahapan-tahapan ini merupakan jawaban atas pemahaman akan fiqih prioritas amal.

  Jika dilihat dari tipologi pemikirannya, para pengamat politik NTB menilai bahwa TGB termasuk menganut politik “moderat-transformatif. Moderat bukan berarti tidak memiliki prinsip, namun mau menerima ide-ide yang konstruktif, terbuka dengan kritik, menyelesaikan konflik dengan jalan damai dan bukan kekerasan, serta menganggap bahwa musyawarah dan diplomasi adalah langkah terbaik. Transformatif artinya berkomitmen menyelenggarakan good governance dalam rangka melayani ummat dengan baik dan merumuskan serta melaksanakan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

  Tulisan ini hanya mengungkap sedikit tentang pandangan TGB dalam mengaplikasikan fiqih prioritas, yaitu sebuah konsep dari doktrin Islam yang luhur. Memang tulisan ini tidak bisa menggambarkan bagaimana interprestasi TGB dalam masalah ini secara utuh, namun diharapkan bisa membuktikan bahwa fiqih itu tidak mendominasi masalah ritual dan sosial semata, akan tetapi sangat relevan diaplikasikan dalam politik struktural dan pemerintahan.
Wallohu a’lam bishawab.

Penulis

, H. Habib Ziadi (Pengasuh Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya Loteng)

POLIGAMI

>   kata “poligami” berasal dari kata, poli = banyak/lebih, gami = perkawinan/kawin..

apa bila dibahas masalah poligami biasanya akan terjadi perbedaan pendapat antara yang setuju dengan tidak setuju tentunya dengan alasan-alasan atau dalil-dalil masing-masing fihak baik itu yg mendukung ataupun tidak. kalau saya tanya temen-temen saya, jawabanya macam-macam dan lucu-lucu.diantaranya @ “poligami itu kan sunah yg paling nikmattt..he he he”. @”namanya juga poligami, kayak maen poliy harus lebih dari satu dong kalau pasangan maen kita cuma satu nga seru dong.” @”mending poligami dong daripada selingkuh, poligami dapat pahala selingkuh dapat dosa, pilih mana? dosa atau pahala”?.nah pendapat anda bagaimana?..

   ada baiknya kita simak pendapat semeton sasak kita yg satu ini.

Judul asli: Tafsir Ayat-ayat Poligami.

Oleh: Lalu Heri Afrizal, Lc.

poligami</<SUATU ketika seorang Syeikh, di salah satu negara yang pemerintahnya melarang poligami, menikah untuk kedua kalinya. Kabar pernikahannya pun terendus oleh intelijen negara itu. Di malam hari ketika Sang Syeikh itu menginap di rumah isteri keduanya, ia digrebek oleh sekelompok orang anggota intelijen. Ia pun diintrogasi dengan kasar.

“Mengapa Anda menikah lagi?” Dengan tenang Syeikh itu membela diri. “Dari mana Anda tahu kalau perempuan ini adalah isteri saya. Perempuan ini adalah simpanan saya.”

Akhirnya para intel itu mohon maaf atas tindakan lancang mereka. Dunia seakan terbalik. Orang yang menikah baik-baik hendak ditangkap, tetapi ketika alasan berduaan dengan pasangan kumpul kebo, justru dihormati. Dengan kata lain, orang berzina di luar nikah di lindungi dan dihormati, sementara yang menikah baik-baik dianggap melanggar Undang-undang.

Di negara kita, pembicaraan tentang poligami selalu hangat di dengar, terutama setelah dai kondang KH Abdullah Gymnastiar menikah dengan istri keduanya. Mereka yang menolak hukum poligami pun berusaha mencari justifikasi dari al-Quran dan Hadits yang mendukung sikap anti mereka. Biasanya mereka berdalil dengan ayat 3 surat An-Nisa’, bahwa seorang laki-laki boleh berpoligami jika mampu beruat adil.

وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tetapi ayat 129 surat yang sama menjelaskan siapapun tak akan mampu berlaku adil di antara istri-istrinya. Ini artinya, poligami sebenarnya tidak dibolehkan, karena kebolehan itu tergantung pada syarat “adil” yang mustahil direalisasikan.

Jika kita mengkaji penjelasan para ulama seputar kedua ayat di atas, tidak ada kontradiksi samasekali antara keduanya. Karena adil yang dimaksudkan pada ayat 3, bukan adil yang dimaksud oleh ayat 129. Memang, penggalan pertama ayat 129 berbunyi: “Dan sekali-kali kamu tidak akan bisa berbuat adil di antara para isteri kamu walaupun kamu sangat menginginkan hal itu…” Tetapi ketika kita lanjut membaca, maka ada penggalan berikutnya yang berbunyi, “…Maka janganlah kamu terlalu condong (terhadap istri yang lebih kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung….”

Jelas bahwa mafhûm mukhâlafah (makna sebaliknya) dari penggalan kedua di atas ialah: “Berbuat adillah engkau di antara mereka agar mereka tidak terkatung-katung”, karena lawan dari “Jangan terlalu condong (jangan berat sebelah)” adalah “Berlaku luruslah (berlaku adillah)”.

Jika demikian, jelas bahwa makna “adil” pada penggalan pertama, bukan makna “adil” pada penggalan kedua. Sebab jika diartikan sama, tentu akan menimbulkan makna kontradiktif, karena ayatnya akan berbunyi: “Dan kamu sekali-kali tidak akan bisa berkalu adil terhadap isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, maka berlaku adillah…!”

Sudah dijelaskan bahwa tidak ada orang yang bisa berlaku adil, lantas mengapa diperintah berbuat adil? Itu namanya membebani manusia dengan sesuatu yang tak mampu ia lakukan, padahal Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 284; “Allah tidak membebani seseorang dengan sesuatu yang tidak mampu ia laksanakan”.

Jadi adil dalam frase pertama berarti adil dalam urusan hati (seperti rasa cinta yang lebih kepada isteri yang lain). Adil dalam hal inilah yang tak mampu dilakukan oleh manusia, sehingga mereka tak diperintahkan untuk berlaku adil dalam hal ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sendiri bersabda: “Ya Allah inilah pembagianku dalam apa yang aku punyai (mampu melakukannya, yaitu urusan nafkah dan menginap) dan janganlah mencelaku pada apa yang Engkau punya dan tidak aku punya (urusan hati).” [HR. Abu Dawud]

Jadi arti “Janganlah berlaku condong (berbuat adillah)..” pada penggalan ayat kedua berarti adil dalam muamalah (seperti pemberian nafkah, giliran menginap, penyediaan fasilitas, pendidikan anak dsb). Adil dalam hal inilah yang mampu dilakukan oleh manusia.

Dengan demikian pemahaman ayat tersebut tidak akan kontradiktif. Karena tafsirannya akan berbunyi: “Engkau sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil dalam hal hati, karena hati adalah urusan Allah. Dia bisa saja menjadikanmu lebih mencintai salah satu di antara istri-istrimu. Tetapi janganlah kecendrungan hati ini membuat engkau tidak berlaku adil dalam bermuamalah kepada mereka. Janganlah kecintaanmu yang lebih kepada salah satu di antara merkea membuatmu tidak memperhatikan yang lain sehingga mereka terkatung-katung.” Dengan demikian tidak akan terjadi makna yang kontradiktif.

Ada juga yang berdalil dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Rasulullah bersabda di atas mimbar: “Keluarga Bani Hasyim bin Mughirah meminta izin untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib, maka aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, kecuali bila Ali menceraikan putriku dan menikahi anak perempaun mereka. Sungguh Fathimah adalah bagian dari diriku, meragukanku apa yang meragukannya, menyakitiku apa yang menyakitinya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Umumnya, mereka yang menolak poligigami menjadikan dasar hadits ini guna mendukung sikap anti poligami nya.

Namun, ketika dicermati kembali, anggapan tersebut tertolak dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Surat An Nisa’: 3:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja

.” [QS. An-Nisa’: 3].

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wata’a membolehkan seorang laki-laki menikahi wanita lebih dari satu, dan juga memerintahkan untuk menikahi satu isteri saja bila ia khawatir tak mampu berbuat adil. Nabi sendiri memiliki sembilan isteri. Maka sebagaimana ucapan beliau adalah dalil, begitu juga dengan perbuatan beliau.

Adapun alasan Nabi melarang Ali ra berpoligami karena perbuatan itu menyakiti Fathimah dan Nabi Saw, maka hal ini memang benar. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, menyakiti yang seperti apa? Kalau “menyakiti” berupa perasaan Sayyidah Fathimah ra yang tersakiti karena dimadu, tentu bukan itu yang dimaksud, karena Nabi sendiri berpoligami, dan perasaan tidak enak serta cemburu itu akan selalu ada di hati para istri beliau. Istri-istri beliau juga perempuan seperti Fathimah ra. Para sahabat Nabi yang lain juga banyak berpoligami, apakah mereka dilarang berpoligami lantaran istri-istri mereka cemburu? Atau istri mereka memang tidak ada yang memiliki sifat cemburu? Tetapi jika yang dimaksudkan “menyakiti” itu adalah karena Ali ra ingin menikahi anak perempuan Abu Jahal, sehingga hal ini akan menyakiti Nabi Subhanahu Wata’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menjelaskan hal ini dengan sabda beliau:

وَإِنِّى لَسْتُ أُحَرِّمُ حَلاَلاً وَلاَ أُحِلُّ حَرَامًا ، وَلَكِنْ وَاللَّهِ لاَ تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ أَبَدًا

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal atau mengharamkan yang halal, akan tetapi demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasul Allah dan anak perempuan musuh Allah pada seorang laki-laki selamanya

.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Mengomentari hadits di atas Ibnu At-Tîn berkata: “Pendapat paling tepat dalam menafsirkan kisah ini adalah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam mengharamkan Ali mengumpulkan putri beliau dengan anak perempuan Abu Jahal karena akan menyakiti beliau, dan menyakiti Nabi hukumnya haram, berdasarkan ijma’.

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam: “Aku tidak mengharamkan perkara yang halal’, maksudnya, dia (anak perempuan Abu Jahal) itu halal dinikahi oleh Ali jika saja Fatimah bukan istrinya. Adapun mengumpulkan keduanya akan menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam karena merasa tersakitinya Fathimah, maka hal itu tidak dibolehkan.

“Pelarangan bukan karena “tersakitinya” Fathimah ra, melainkan tersakitinya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam lantaran tersakitinya Fatimah, dan umat sepakat tentang keharaman menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Tentang hal ini Imam Ibnul Qayyim berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan tentang keharaman menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dengan cara apapun, meskipun dengan melakukan perbuatan yang mubah. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam merasa tersakiti dengan hal itu maka tidak boleh dilakukan berdasarkan firman Allah Subhanahu Wata’ala: “Tidak pantas bagi kalian menyakiti Rasulullah [QS. Al-Ahzab: 53].”

Mengatur, bukan Melarang

Islam yang merupakan agama fitrah, tentunya datang untuk memenuhi dan mengatur naluri kemanusiaan. Ia tidak datang untuk mencegah poligami, tetapi mengatur bagaimana cara berpoligami yang benar. Karena poligami adalah fenomena yang lumrah dan kodrati sepanjang sejarah manusia.

Poligami adalah pilihan sosial yang mubah, boleh dilakukan dan tidak berdosa orang yang tidak melakukannya. Tidak wajib dan tidak dibolehkan bagi laki-laki yang merasa tidak sanggup berbuat adil.

Namun yang terpenting adalah kita tidak boleh membenci hukum kebolehan ini, apalagi mengatakan bahwa poligami bukan merupakan Syariat Islam. Ketika ada orang yang melakukannya, tentu tidak boleh dibenci atau disalahkan, karena ia menjalani sesuatu yang dibolehkan baginya, bahkan bisa jadi dianjurkan berdasarkan hadits-hadits yang menganjurkan untuk memperbanyak umat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Ketika ada kasus rumahtangga poligami yang rusak karena berberapa oknum yang tidak mampu berbuat adil, tidak boleh lantas menyalahkan poligaminya. Sebab banyak juga rumah tangga monogami yang berantakan. Dengan demikian, tidak karena rusaknya rumah tangga non poligami kita menyalahkan monogaminya. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) VI ISID, Gontor, Ponorogo

  • Kalender

    • Oktober 2017
      S S R K J S M
      « Des    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Cari